#
Fiqh, KAJIAN, Shaum

Fiqih shaum

Shaum Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Maka, sudah selayaknya kita mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi bulan mulia ii. Harpannya kita bisa mempersembahkan ibadah terbaik bagi Allah Swt sesuai dengan tuntunan rasulullah SAW. Ada tiga hal yang harus kita persiapkan yaitu ilmu, fisik dan ruhiyah. Dengan ilmu insyaAllah inadah kita akan memenuhi kretaria benar. dengan fisik yang sehat kita mengisi romadhan dengan baik. Dan dengan kesipana ruhiya kita bisa menjalani ramadhan dengan penuh keikhlasan.

DEFINISI Secara bahasa puasa atau syaum berarti al-imsak (menahan diri dari segala sesuatu). Secara istilah diartikan dengan ‘menahan diri dari segala yang membatalkan puasa satu hari lamanya,sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat. Allah SWT berfirman, “makanlah dan munumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar” (QS. Al-Baqarah : 187)

Pengertian ini melahirkan kesimpulan, kita kategorikan shaum bila sebelumnya berniat dan memenuhi beberapa syarat tertentu. Jadi ketika kita menahan diri dari segala sesuatu tapi tidak didahului dengan niat dan syarat tertentu, maka apa yang kita lakukan tidak dikategorikan shaum. Sedang makna ramadhan secara harfiyah artinya membakar dan mengasah, yang dimaksudkan membakar dosa sehingga dengan shaum yang sebaik-baiknya, dosa-dosa seorang muslim akan dibakar oleh Allah dan setelah ramadhan insya Allah akan kembali fitrah. Sedang mengasah adalah mengasah dan mengasuh jiwa, sehingga orang yang shaum akan memiliki ketajaman jiwa yang membuatnya cepat, mudah dan mampu menangkap isyarat spiritual, jiwanya menjadi kaya dan tidak didominasi lagi oleh sifat sombong dan sifat buruk lainnya.

MACAM-MACAM SHAUM.

1. Shaum wajib. Diantaranya : (1). Shaum ramadhan satu bulan penuh beserta qadhanya. (2). Shaum nadzar (3). Shaum kifarat. Semua madzhab sepakat.

2. Shaum sunnah. Diantaranya : (1). Shaum enam hari di bulan syawal. (2). Shaum senin-kamis. (3). Shaum daud. (4). Shaum tasyu’a (tanggal 9) dan shaum asyura (tanggal 10) dibulan muharam. (5). Shaum tanggal 13,14 dan 15 tiap bulan komariah. (6) shaum arofah setiap 9 dzulhijah. (7). Shaum rajab dan sya’ban. Semua madzhab sepakat tentang hal ini.

3. Shaum makruh. Diantaranya : (1). Shaum yang mendahului satu atau dua hari sebelum tanggal datu ramadhan. Shaum tersebut diragukan apakah sudah masuk ramadhan atau belum (Yaumu syak) (2). Shaum dihari jum’at tanpa disertai hari sebelumnya atau sesudahnya. (3). Shaum pada hari sabtu tanpa dibarengi hari sebelumnya atau sesudahnya.

4. Shaum haram. Diantaranya : (1). Shaum pada hari raya idul fitri dan idul adha (madzhab hanafiyah berpendapat bahwa shaum pada dua hari raya tersebut hukumnya makruh tahrim artinya lebih dekat kepada haram). (2). Shaum pada hari tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhjah). Mengenai shaum pada hari tasyrik para ulama berbeda pendapat :

  • Madzhab hanafiyah berpendapat makruh tahrim.
  • Madzhab malikiyah berpendapat haram hukumnya melaksnakan shaum pada tanggal 11-12 dzulhijah bagi yang tidak melaksanakan haji dan tidak haram bagi yang melaksanakan haji.
  • Madzhab syafi’iyyah berpendapat haram hukumnya bershuam baik bagi yang melaksnakan haji ataupun bagi yang tidak.
  • Madzhab hambaliyah berpendapat haram hukumnya bagi yang tidak berhaji dan bagi yang melaksnakan haji tidak haram.
  • Madzhab imamiyah berpendapat diperbolehkan bershaum pada hari tersebut, khusus bagi yang mabit di Mina. Dalil hukum kewajiban shaum. Shaum ramadhan adalah perintah Allah SWT pada semua orang beriman .perintah shaum terdapat dalam QS. Al-Baqarah :183-185 dan juga dalam hadits Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang shaum ramadhan karena iman dan mengharapakan pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. muttafaq’alaih)

SYARAT SAH DAN WAJIB.

Dalam praktiknya syhaum ramadhan memiliki syarat-syarat tertentu yang harus terpenuhi. Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang syarat sah shaum.

a) Menurut madzhab hanafiyah. Ada tiga syarat sah shaum yaitu,

  1. Niat;
  2. Tidak ada penghalang shaum seperti, haid, nifas;
  3. Apabila haid maka harus di qadha (diganti pada bulan lain).

b) Menurut madzhab malikiyah, ada lima syarat sah shaum yaitu :

  1. Niat;
  2. Suci dari haid dan nifas;
  3. Beragama Islam;
  4. Berakal dan ;
  5. Waktunya diperbolehkan untuk shaum; tidak pada hari raya ied dan hari tasyrik (11,12, 13 Dzulhijah).

c) Menurut madzhab syafi’iyah, ada empat syarat sah shaum yaitu 1). Beragama islam; 2). d) Menurut madzhab syafi’iyah, ada empat syarat sah shaum yaitu

  1. Beragama islam;
  2. berakal;
  3. Suci dari haid dan nifas; dan
  4. niat.

e) Menurut madzhab hambali, ada tiga syarat sah shaum yaitu :

  1. Beragama Islam;
  2. Niat;
  3. Suci dari haid dan nifas.

Secara umum ada beberapa criteria orang yang wajib shaum, yaitu :

1) Beragama Islam, artinya non-muslim tidak terkena kewajiban dan tidak sah shaumnya. Apabila ia masuk Islam, ia tidak berkewajiban meng-qadha (mengganti) apa yang terlewat.

2) Mumayyiz atau baligh, baik ditandai dengan datangnya haid bagi wanita atau umur 15 tahun bagi laki-laki dan tanda baligh lainnya seperti mimpi basah. Dengan demikian anak-anak tidak wajib bershaum, tetapi bila melakukan, maka shaumnya sah.

3) Berakal sehat, Rasulullah SAW bersabda :”tiga golongan yang terlepas dari hokum; orang tidur hingga ia terbangun, orang yang gila hingga sembuh dari sakit gilanya dan anak-anak sampai baligh (HR. Abu Daud dan Nasa’i). bagaimana orang yang mabuk atau pingsan, sebagian ulama madzhab berbeda pendpat :

  • Madzhab syafiiyah berpendapat : bila terjadinya pada seluurh waktu shaum maka tdiak sah, akan tetapi apabila terjadinya pada sebagian waktu, maka shaumnya dinilai sah dan wajib qadha bagi yang pingsan saja.
  • Madzhab malikiyah berpendapat : tidak sah shaumnya bila terjadi pada seluurh waktu atau sebagian besar waktunya. Akan tetapi bila terjadinya separuh waktu atau kuarang dari itu dan ketika niat dia teringat dan melakukan niat, maka tidak wajib qadha. Waktu niat untuk mereka adalah mulai dari maghrib sampai dengan fajar (subuh).
  • Madzhab hnafiyah berpendapat : yang hilang akal/pingsan sama halnya dengan orang gila. Adapun hukumnya bagi orang gila, bila terjadinya satu bulan penuh maka tidak wajib qadha. Bila terjadinya setengah bulan maka wajib qadha dan stengah bulan sisanya wajib shaum.
  • Madzhab hambaliyah berpendapat : wajib qadha bagi mereka baik sengaja atau dipaksa.

4) Suci dari haid dan nifas (bagi wanita), hal ini sudah termasuk pada kategori maridh, seperti dimaksudkan dalam QS. Al-baqarah : 185 dan diperkuat sabda Rasulullah SAW, “Aisyah berkata, kami mengalami haid pada masa Rasulullah, lalu kami diperintah untuk mengqadha shaum dan tidak diperintah mengqadha shalat”(HR. Bukhari Muslim)

RUKUN SHAUM.

Hakikat, rukun shaum adalah shaum itu sendiri yang tidak boleh ditinggalkan yaitu niat dan menahan diri dari segala yang bsia membatalkan shaum.

1. Niat. Para akhli fiqih semuanya sependapat bahwa niat diharuskan baik shaum fardu atau sunnah, baik ditempatkan dirukun atau disyarat shaum. Tempat niat adalah hati sehingga tidak cukup hanya dengan lisan saja. Menurut mayoritas ulama, selain malikiyah, niat disunnahkan untuk dilafalkan dengan lsian. Ada tiga syarat sahnya niat yaitu :

  • Tabyit niat Artinya niat harus dilakukan pada malam hari ketika esok harinya akan shaum. Rasulullah SAW bersabda : barang siapa yang tidak berniat shaum malam harinya, maka tidak sah shaumnya (HR. Mutafaq’alaih)
  • Ta’yin niat. Menentukan jenis shaum. Hal ini termasuk syarat shaum menurt mayoritas ulama, kecuali hanafiyah, misalnya : saya shaum ramadhan esok hari, atau qadha ramadhan atau shaum nadzar.
  • Tikrar an-niat atau ta’addud niat bita’add ayyam Melakukan niat setiap hari pada bulan ramadhan. Shaum merupakan ibadah yang tidak berkaitan dengan hari esoknya/hari lainnya. Seeprti halnya batal hari itu tidak membatalkan shaum yang lainnya. Menurut mayotitas ulama, hal ini merupakan syarat. Sedangkan madzhab malikiyah berpendapat niat cukup satu kali saja pada awal ramadhan untuk shaum satu bulan ramadhan. Dengan syarat bila tidak terputus pada hari-hari tersebut dengann buka yang diperbolehkan seperti musafir atau sakit, dsb. Atau yang harusnya berbuka seperti haid, nifas; bila demikian harus niat lagi bila akan shaum (memperbaharui niat), tapi disunnahkan niat setiap malam.

2. Menahan diri. Artinya menahan diri dari segala yang memabatalkan shaum dari mulai terbit fajar shadiq sampai dengan terbenam matahari (QS.2:187)

SUNNAT SHAUM.

Selain ada rukun yang harus dilakukan, ada pula beberapa sunnah yang layak dilakukan. Rasulullah SAW melakukan pekerjaan tersebut untuk menyempurnakan ibadah shaum.

  • Sahur. Aktifitas ini dilakukan sebagai pendahuluan saat seseorang berniat untuk puasa. Keutamaan serta berkah sahur dapat dicapai dengan makan minum pada sepertiga malam terakhir. Sabda Rasulullah SAW : “makan saurlah kamu sesungguhnya pada mkan sahur terkadnung berkah (menguatkan badan enahan lapar karena shaum) (HR. Bukhari Muslim). sahur di Sunnatkan diakhirkan, kita dianjurkan untuk menyempatkan diri bersahur walau dengan seteguk air.
  • Menyegerakan berbuka bila sudah waktunya. Berdoa saat berbuka dan berbuka dengan kurma atau sesuatu yang manis atau dengan air. Diriwayatkan, “Nabi SAW berbuka dengan ruthab (kurma gumading) sebelum shalat kalau tidak ada dengan kurma dan kalau tidak ada juga beliau minum beberapa teguk” (HR. Tirmidzi)
  • Memberikan makan orang yang akan berbuka. Walau hanya seteguk air atau sebutir kurma Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa memberikan makan kepada orang yang akan berbuka puasa, maka pahalanya sama dengan orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya”(HR. Tirmidzi, Nasa’I, ibnu Majah, ibnu khuzaimah & Ibnu hibban)
  • Mandi besar sebelum fajar atau subuh tiba dari junub, haid dan nifas.
  • Menjaga lisan dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang sia-sia.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Menyibukan diri dengan alqur’an, mencari ilmu datang ke majlis taklim, berdzikir, bershalawat kepada rasulullah dan sebagainya.
  • Itikaf terutama pada sepuluh hari terakhir ramadhan.

PERKARA YANG MEMBATALKAN SHAUM.

Ada beberapa hal yang dapat membatalkan shaum yaitu :

1. Makan dan minun dengan sengaja. Namun bila disebabkan lain seperti lupa maka itu tidak membatalkan shaum yang demikian itu adalah jamuan Allah. Disabdakan oleh Rasulullah SAW :”barag siapa lupa sedangakan ia dalam keadaan shaum, kemduian ia makan dan minum hendaklah shaumnya disempurnakan, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberinya makan dan minum”

2. Muntah disengaja. Rasulullah SAW bersabda, “barang saiap terpaksa muntah, tidaklah wajib mengqodha shaumnya dan barang siapa yang mengushakan munth maka hendaklah ia mengqadha shaumnya”

3. Bersetubuh. Aktiftas ini dianggap membatalkan shaum bila dilakukan siang hari dan sedang shaum. Melanggar aturan ini mengandung kosnekuensi sanksi yang cukup berat. Ia harus bertobat dan menjalankan kifaratnya adalah

  • Memerdekakan hamba sahaya.
  • Shaum dua bulan berturut-turut dan
  • Member makan enam puluh fakir miskin. Yang bertanggungjawab dalah hali ini adalah suami.

4. Keluar darah haid dan nifas bagi wanita.

5. Sakit gila. Hal ini membatalkan shaum bila terjadi pada siang hari dan pada saat bershaum. Orang yang akalnya tidak sehat hilang darinya kewajiban syara’

6. Keluar mani dengan sengaja. Hal ini diqiyaskan kepada persetubuhan. Alas an keluar mani merupalkan tujuan dari setiap persetubuhan. Keluar mani karena mimpi dianggap tidak membatalkan shaum karena terjadi diluar kesadaran, hanya wajib mandi saja.

BOLEH BERBUKA DAN KONSEKEKUENSINYA.

Beberapa orang dibolehkan berbuka (atau tidak shaum) karena sebab-sebab terentu. Namun hal ini menimbulkan konsekuensi lain berikut rinciannya.

1. Sakit dan safar. Bila seseorang mengalami sakit saa shaum maka dia dobolehkan untuk berbuka. Demikian pula bila seseorang melakukan safar (perjalan yang kategori boleh mengqashar shalat, maka ia harus menggantinya (qadha) pada hari lain. Allah SWT berfirman :”Barang siapa sakita atau dalam perjalanan dan berbuka maka wajib meng-qadhanya di hari yang lain (QS.2:185)

2. Orang berusia lanjut, wanita hamil dan menyusui. Kelompok orang ini boleh berbuka tapi ahrus membayar fidyah sebanayk satu mud atau ¾ liter beras untuk satu hari yang ditinggalakan. Firman Allah SW :”…wajib bagi mereka yang berat menjalankannya, bila mereka tidak shaum member makan orang miskin(QS.2:184).

Diriwayatkan pula oleh Annas bin Malik bahwa rasulullah SAW bersabda :”sesungguhnya Allah telah memaafkan setengah shalat dari orang musafir dan memaafkan pula shaumnya dan Allah member kemduahan kepada wanita hamil dan menyusui”

MASALAH-MASALAH SEKITAR SHAUM.

Ada beberapa masalah yang berubungan erat dengan shaum serta pelaksanaanya :

1. Berpantik (berbekam). Para ulama berbeda pendapat tentang hali ini. Ada yang membatalkan shaum ada juga yang tidak. namun jumhur ulama berpendapat berbekam tidak membaalkan shaum karena alas an hadits berikut, dari ibnu Abbas, “sesunguhnya nabi SAW telah berpantik ketika beliau sedang berihram dan ketika sedang shaum”

2. Junub atau hadats besar sanpai pagi. Saat seseorang berada dalam keadaan junud atau berhadats besar, maka dianjurkan segera bersuci. Namun bila ada halangan, ia boleh shaum dan bersuci setelah fajar. Dalams ebuah hadits diebutkan :”Sesungguhnya nabi SAW pernah smapai waktu subuh dalam keadaan junud karena bersetubuh, bukan karena mimpi, kemduian beliau terus bershaum ramadhan (HR Bukhari Muslim)

3. Waktu qadha shaum ramadhan. Ada perbedaan pemahaman diantara para ulama tentang forman Allah dalam QS 2:185, khususnya tentang hari-hari yang lain yaitu a). qadha harus segera dilakukan karena utang shaum Karena udzur (halangan), saat udzur tersebut hilang, maka kekurangan shaumnya segera diganti. b). qadha bisa kapan saja dilakukan dan tidak ditentukan selama satu tahun.

4. Menggantikan shaum orang lain. Barang siapa meninggal dunia dan masih memiliki kewajiban meng-qadha, maka anak atau keluarga dekatnya boleh menggnatikan utang qadha tersebut, “barang siapa yang mati dengan meninggalakn qadha shaum, hendaklah walinya bershaum untuk menggnatikannya”, demikian sabda Rasulullah SAW dari Siti Aisyah.

Diskusi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Image by FlamingText.com
Image by FlamingText.com

ARSIP

TOP RATE

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: