#
Arsip

Shaum

This category contains 4 posts

Fiqih shaum

Shaum Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Maka, sudah selayaknya kita mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi bulan mulia ii. Harpannya kita bisa mempersembahkan ibadah terbaik bagi Allah Swt sesuai dengan tuntunan rasulullah SAW. Ada tiga hal yang harus kita persiapkan yaitu ilmu, fisik dan ruhiyah. Dengan ilmu insyaAllah inadah kita akan memenuhi kretaria benar. dengan fisik yang sehat kita mengisi romadhan dengan baik. Dan dengan kesipana ruhiya kita bisa menjalani ramadhan dengan penuh keikhlasan.

DEFINISI Secara bahasa puasa atau syaum berarti al-imsak (menahan diri dari segala sesuatu). Secara istilah diartikan dengan ‘menahan diri dari segala yang membatalkan puasa satu hari lamanya,sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat. Allah SWT berfirman, “makanlah dan munumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar” (QS. Al-Baqarah : 187)

Pengertian ini melahirkan kesimpulan, kita kategorikan shaum bila sebelumnya berniat dan memenuhi beberapa syarat tertentu. Jadi ketika kita menahan diri dari segala sesuatu tapi tidak didahului dengan niat dan syarat tertentu, maka apa yang kita lakukan tidak dikategorikan shaum. Sedang makna ramadhan secara harfiyah artinya membakar dan mengasah, yang dimaksudkan membakar dosa sehingga dengan shaum yang sebaik-baiknya, dosa-dosa seorang muslim akan dibakar oleh Allah dan setelah ramadhan insya Allah akan kembali fitrah. Sedang mengasah adalah mengasah dan mengasuh jiwa, sehingga orang yang shaum akan memiliki ketajaman jiwa yang membuatnya cepat, mudah dan mampu menangkap isyarat spiritual, jiwanya menjadi kaya dan tidak didominasi lagi oleh sifat sombong dan sifat buruk lainnya.

MACAM-MACAM SHAUM.

1. Shaum wajib. Diantaranya : (1). Shaum ramadhan satu bulan penuh beserta qadhanya. (2). Shaum nadzar (3). Shaum kifarat. Semua madzhab sepakat.

2. Shaum sunnah. Diantaranya : (1). Shaum enam hari di bulan syawal. (2). Shaum senin-kamis. (3). Shaum daud. (4). Shaum tasyu’a (tanggal 9) dan shaum asyura (tanggal 10) dibulan muharam. (5). Shaum tanggal 13,14 dan 15 tiap bulan komariah. (6) shaum arofah setiap 9 dzulhijah. (7). Shaum rajab dan sya’ban. Semua madzhab sepakat tentang hal ini.

3. Shaum makruh. Diantaranya : (1). Shaum yang mendahului satu atau dua hari sebelum tanggal datu ramadhan. Shaum tersebut diragukan apakah sudah masuk ramadhan atau belum (Yaumu syak) (2). Shaum dihari jum’at tanpa disertai hari sebelumnya atau sesudahnya. (3). Shaum pada hari sabtu tanpa dibarengi hari sebelumnya atau sesudahnya.

4. Shaum haram. Diantaranya : (1). Shaum pada hari raya idul fitri dan idul adha (madzhab hanafiyah berpendapat bahwa shaum pada dua hari raya tersebut hukumnya makruh tahrim artinya lebih dekat kepada haram). (2). Shaum pada hari tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhjah). Mengenai shaum pada hari tasyrik para ulama berbeda pendapat :

  • Madzhab hanafiyah berpendapat makruh tahrim.
  • Madzhab malikiyah berpendapat haram hukumnya melaksnakan shaum pada tanggal 11-12 dzulhijah bagi yang tidak melaksanakan haji dan tidak haram bagi yang melaksanakan haji.
  • Madzhab syafi’iyyah berpendapat haram hukumnya bershuam baik bagi yang melaksnakan haji ataupun bagi yang tidak.
  • Madzhab hambaliyah berpendapat haram hukumnya bagi yang tidak berhaji dan bagi yang melaksnakan haji tidak haram.
  • Madzhab imamiyah berpendapat diperbolehkan bershaum pada hari tersebut, khusus bagi yang mabit di Mina. Dalil hukum kewajiban shaum. Shaum ramadhan adalah perintah Allah SWT pada semua orang beriman .perintah shaum terdapat dalam QS. Al-Baqarah :183-185 dan juga dalam hadits Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang shaum ramadhan karena iman dan mengharapakan pahala (dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. muttafaq’alaih)

SYARAT SAH DAN WAJIB.

Dalam praktiknya syhaum ramadhan memiliki syarat-syarat tertentu yang harus terpenuhi. Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang syarat sah shaum.

a) Menurut madzhab hanafiyah. Ada tiga syarat sah shaum yaitu,

  1. Niat;
  2. Tidak ada penghalang shaum seperti, haid, nifas;
  3. Apabila haid maka harus di qadha (diganti pada bulan lain).

b) Menurut madzhab malikiyah, ada lima syarat sah shaum yaitu :

  1. Niat;
  2. Suci dari haid dan nifas;
  3. Beragama Islam;
  4. Berakal dan ;
  5. Waktunya diperbolehkan untuk shaum; tidak pada hari raya ied dan hari tasyrik (11,12, 13 Dzulhijah).

c) Menurut madzhab syafi’iyah, ada empat syarat sah shaum yaitu 1). Beragama islam; 2). d) Menurut madzhab syafi’iyah, ada empat syarat sah shaum yaitu

  1. Beragama islam;
  2. berakal;
  3. Suci dari haid dan nifas; dan
  4. niat.

e) Menurut madzhab hambali, ada tiga syarat sah shaum yaitu :

  1. Beragama Islam;
  2. Niat;
  3. Suci dari haid dan nifas.

Secara umum ada beberapa criteria orang yang wajib shaum, yaitu :

1) Beragama Islam, artinya non-muslim tidak terkena kewajiban dan tidak sah shaumnya. Apabila ia masuk Islam, ia tidak berkewajiban meng-qadha (mengganti) apa yang terlewat.

2) Mumayyiz atau baligh, baik ditandai dengan datangnya haid bagi wanita atau umur 15 tahun bagi laki-laki dan tanda baligh lainnya seperti mimpi basah. Dengan demikian anak-anak tidak wajib bershaum, tetapi bila melakukan, maka shaumnya sah.

3) Berakal sehat, Rasulullah SAW bersabda :”tiga golongan yang terlepas dari hokum; orang tidur hingga ia terbangun, orang yang gila hingga sembuh dari sakit gilanya dan anak-anak sampai baligh (HR. Abu Daud dan Nasa’i). bagaimana orang yang mabuk atau pingsan, sebagian ulama madzhab berbeda pendpat :

  • Madzhab syafiiyah berpendapat : bila terjadinya pada seluurh waktu shaum maka tdiak sah, akan tetapi apabila terjadinya pada sebagian waktu, maka shaumnya dinilai sah dan wajib qadha bagi yang pingsan saja.
  • Madzhab malikiyah berpendapat : tidak sah shaumnya bila terjadi pada seluurh waktu atau sebagian besar waktunya. Akan tetapi bila terjadinya separuh waktu atau kuarang dari itu dan ketika niat dia teringat dan melakukan niat, maka tidak wajib qadha. Waktu niat untuk mereka adalah mulai dari maghrib sampai dengan fajar (subuh).
  • Madzhab hnafiyah berpendapat : yang hilang akal/pingsan sama halnya dengan orang gila. Adapun hukumnya bagi orang gila, bila terjadinya satu bulan penuh maka tidak wajib qadha. Bila terjadinya setengah bulan maka wajib qadha dan stengah bulan sisanya wajib shaum.
  • Madzhab hambaliyah berpendapat : wajib qadha bagi mereka baik sengaja atau dipaksa.

4) Suci dari haid dan nifas (bagi wanita), hal ini sudah termasuk pada kategori maridh, seperti dimaksudkan dalam QS. Al-baqarah : 185 dan diperkuat sabda Rasulullah SAW, “Aisyah berkata, kami mengalami haid pada masa Rasulullah, lalu kami diperintah untuk mengqadha shaum dan tidak diperintah mengqadha shalat”(HR. Bukhari Muslim)

RUKUN SHAUM.

Hakikat, rukun shaum adalah shaum itu sendiri yang tidak boleh ditinggalkan yaitu niat dan menahan diri dari segala yang bsia membatalkan shaum.

1. Niat. Para akhli fiqih semuanya sependapat bahwa niat diharuskan baik shaum fardu atau sunnah, baik ditempatkan dirukun atau disyarat shaum. Tempat niat adalah hati sehingga tidak cukup hanya dengan lisan saja. Menurut mayoritas ulama, selain malikiyah, niat disunnahkan untuk dilafalkan dengan lsian. Ada tiga syarat sahnya niat yaitu :

  • Tabyit niat Artinya niat harus dilakukan pada malam hari ketika esok harinya akan shaum. Rasulullah SAW bersabda : barang siapa yang tidak berniat shaum malam harinya, maka tidak sah shaumnya (HR. Mutafaq’alaih)
  • Ta’yin niat. Menentukan jenis shaum. Hal ini termasuk syarat shaum menurt mayoritas ulama, kecuali hanafiyah, misalnya : saya shaum ramadhan esok hari, atau qadha ramadhan atau shaum nadzar.
  • Tikrar an-niat atau ta’addud niat bita’add ayyam Melakukan niat setiap hari pada bulan ramadhan. Shaum merupakan ibadah yang tidak berkaitan dengan hari esoknya/hari lainnya. Seeprti halnya batal hari itu tidak membatalkan shaum yang lainnya. Menurut mayotitas ulama, hal ini merupakan syarat. Sedangkan madzhab malikiyah berpendapat niat cukup satu kali saja pada awal ramadhan untuk shaum satu bulan ramadhan. Dengan syarat bila tidak terputus pada hari-hari tersebut dengann buka yang diperbolehkan seperti musafir atau sakit, dsb. Atau yang harusnya berbuka seperti haid, nifas; bila demikian harus niat lagi bila akan shaum (memperbaharui niat), tapi disunnahkan niat setiap malam.

2. Menahan diri. Artinya menahan diri dari segala yang memabatalkan shaum dari mulai terbit fajar shadiq sampai dengan terbenam matahari (QS.2:187)

SUNNAT SHAUM.

Selain ada rukun yang harus dilakukan, ada pula beberapa sunnah yang layak dilakukan. Rasulullah SAW melakukan pekerjaan tersebut untuk menyempurnakan ibadah shaum.

  • Sahur. Aktifitas ini dilakukan sebagai pendahuluan saat seseorang berniat untuk puasa. Keutamaan serta berkah sahur dapat dicapai dengan makan minum pada sepertiga malam terakhir. Sabda Rasulullah SAW : “makan saurlah kamu sesungguhnya pada mkan sahur terkadnung berkah (menguatkan badan enahan lapar karena shaum) (HR. Bukhari Muslim). sahur di Sunnatkan diakhirkan, kita dianjurkan untuk menyempatkan diri bersahur walau dengan seteguk air.
  • Menyegerakan berbuka bila sudah waktunya. Berdoa saat berbuka dan berbuka dengan kurma atau sesuatu yang manis atau dengan air. Diriwayatkan, “Nabi SAW berbuka dengan ruthab (kurma gumading) sebelum shalat kalau tidak ada dengan kurma dan kalau tidak ada juga beliau minum beberapa teguk” (HR. Tirmidzi)
  • Memberikan makan orang yang akan berbuka. Walau hanya seteguk air atau sebutir kurma Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa memberikan makan kepada orang yang akan berbuka puasa, maka pahalanya sama dengan orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun dari pahalanya”(HR. Tirmidzi, Nasa’I, ibnu Majah, ibnu khuzaimah & Ibnu hibban)
  • Mandi besar sebelum fajar atau subuh tiba dari junub, haid dan nifas.
  • Menjaga lisan dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang sia-sia.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Menyibukan diri dengan alqur’an, mencari ilmu datang ke majlis taklim, berdzikir, bershalawat kepada rasulullah dan sebagainya.
  • Itikaf terutama pada sepuluh hari terakhir ramadhan.

PERKARA YANG MEMBATALKAN SHAUM.

Ada beberapa hal yang dapat membatalkan shaum yaitu :

1. Makan dan minun dengan sengaja. Namun bila disebabkan lain seperti lupa maka itu tidak membatalkan shaum yang demikian itu adalah jamuan Allah. Disabdakan oleh Rasulullah SAW :”barag siapa lupa sedangakan ia dalam keadaan shaum, kemduian ia makan dan minum hendaklah shaumnya disempurnakan, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberinya makan dan minum”

2. Muntah disengaja. Rasulullah SAW bersabda, “barang saiap terpaksa muntah, tidaklah wajib mengqodha shaumnya dan barang siapa yang mengushakan munth maka hendaklah ia mengqadha shaumnya”

3. Bersetubuh. Aktiftas ini dianggap membatalkan shaum bila dilakukan siang hari dan sedang shaum. Melanggar aturan ini mengandung kosnekuensi sanksi yang cukup berat. Ia harus bertobat dan menjalankan kifaratnya adalah

  • Memerdekakan hamba sahaya.
  • Shaum dua bulan berturut-turut dan
  • Member makan enam puluh fakir miskin. Yang bertanggungjawab dalah hali ini adalah suami.

4. Keluar darah haid dan nifas bagi wanita.

5. Sakit gila. Hal ini membatalkan shaum bila terjadi pada siang hari dan pada saat bershaum. Orang yang akalnya tidak sehat hilang darinya kewajiban syara’

6. Keluar mani dengan sengaja. Hal ini diqiyaskan kepada persetubuhan. Alas an keluar mani merupalkan tujuan dari setiap persetubuhan. Keluar mani karena mimpi dianggap tidak membatalkan shaum karena terjadi diluar kesadaran, hanya wajib mandi saja.

BOLEH BERBUKA DAN KONSEKEKUENSINYA.

Beberapa orang dibolehkan berbuka (atau tidak shaum) karena sebab-sebab terentu. Namun hal ini menimbulkan konsekuensi lain berikut rinciannya.

1. Sakit dan safar. Bila seseorang mengalami sakit saa shaum maka dia dobolehkan untuk berbuka. Demikian pula bila seseorang melakukan safar (perjalan yang kategori boleh mengqashar shalat, maka ia harus menggantinya (qadha) pada hari lain. Allah SWT berfirman :”Barang siapa sakita atau dalam perjalanan dan berbuka maka wajib meng-qadhanya di hari yang lain (QS.2:185)

2. Orang berusia lanjut, wanita hamil dan menyusui. Kelompok orang ini boleh berbuka tapi ahrus membayar fidyah sebanayk satu mud atau ¾ liter beras untuk satu hari yang ditinggalakan. Firman Allah SW :”…wajib bagi mereka yang berat menjalankannya, bila mereka tidak shaum member makan orang miskin(QS.2:184).

Diriwayatkan pula oleh Annas bin Malik bahwa rasulullah SAW bersabda :”sesungguhnya Allah telah memaafkan setengah shalat dari orang musafir dan memaafkan pula shaumnya dan Allah member kemduahan kepada wanita hamil dan menyusui”

MASALAH-MASALAH SEKITAR SHAUM.

Ada beberapa masalah yang berubungan erat dengan shaum serta pelaksanaanya :

1. Berpantik (berbekam). Para ulama berbeda pendapat tentang hali ini. Ada yang membatalkan shaum ada juga yang tidak. namun jumhur ulama berpendapat berbekam tidak membaalkan shaum karena alas an hadits berikut, dari ibnu Abbas, “sesunguhnya nabi SAW telah berpantik ketika beliau sedang berihram dan ketika sedang shaum”

2. Junub atau hadats besar sanpai pagi. Saat seseorang berada dalam keadaan junud atau berhadats besar, maka dianjurkan segera bersuci. Namun bila ada halangan, ia boleh shaum dan bersuci setelah fajar. Dalams ebuah hadits diebutkan :”Sesungguhnya nabi SAW pernah smapai waktu subuh dalam keadaan junud karena bersetubuh, bukan karena mimpi, kemduian beliau terus bershaum ramadhan (HR Bukhari Muslim)

3. Waktu qadha shaum ramadhan. Ada perbedaan pemahaman diantara para ulama tentang forman Allah dalam QS 2:185, khususnya tentang hari-hari yang lain yaitu a). qadha harus segera dilakukan karena utang shaum Karena udzur (halangan), saat udzur tersebut hilang, maka kekurangan shaumnya segera diganti. b). qadha bisa kapan saja dilakukan dan tidak ditentukan selama satu tahun.

4. Menggantikan shaum orang lain. Barang siapa meninggal dunia dan masih memiliki kewajiban meng-qadha, maka anak atau keluarga dekatnya boleh menggnatikan utang qadha tersebut, “barang siapa yang mati dengan meninggalakn qadha shaum, hendaklah walinya bershaum untuk menggnatikannya”, demikian sabda Rasulullah SAW dari Siti Aisyah.

Keutamaan Bulan Ramadhan dan Puasa

Bulan Ramadhan

1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
Adalah Rasulullah SAW memberi khabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa’.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)


2. Dari Ubadah bin AshShamit, bahwa Rasulullah bersabda:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, AIlah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (HR.Ath-Thabrani, dan para periwayatnya terpercaya).


Al-Mundziri berkata: “Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Al-Baihaqi, keduanya dari Abu Qilabah, dari Abu Hurairah, tetapi setahuku dia tidak pemah mendengar darinya.”


3. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:
“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kesturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wa Jalla setiap hari menghiasi Surga-Nya lalu berfirman (kepada Surga),’Hampir tiba saatnya para hamba-Ku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu, ‘pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada ummatku ampunan pada akhir malam. “Beliau ditanya, ‘Wahai Rasulullah apakah malam itu Lailatul Qadar’ Jawab beliau, ‘Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya.’ ” (HR. Ahmad). (Isnad hadits tersebut dha’if, dan di antara bagiannya ada nash-Nash lain yang memperkuatnya.)

Puasa

1. Dalil :
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:
“Setiap amal yang dilakukan anak Adam adalah untuknya, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya bahkan sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, itu untuk-Ku dan Aku yang langsung membalasnya. la telah meninggalkan syahwat, makan dan minumnya karena-Ku.’ Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada aroma kesturi.”

Ingin Menikah Tetapi Calon Suami Belum Bekerja

2. Bagaimana ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah?
Perlu diketahui, bahwa ber-taqarrub kepada Allah tidak dapat dicapai dengan meninggalkan syahwat ini -yang selain dalam keadaan berpuasa adalah mubah- kecuali setelah ber-taqarrub kepada-Nya dengan meninggalkan apa yang diharamkan Allah dalam segala hal, seperti: dusta, kezhaliman dan pelanggaran terhadap orang lain dalam masalah darah, harta dan kehormatannya. Untuk itu, Nabi bersabda : “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari).


Inti pernyataan ini, bahwa tidak sempurna ber-taqarrub kepada Allah Ta’ala dengan meninggalkan hal-hal yang mubah kecuali setelah ber-taqarrub kepada-Nya dengan meninggalkan hal-hal yang haram. Dengan demikian, orang yang melakukan hal-hal yang haram kemudian ber-taqarrub kepada Allah dengan meninggalkan hal-hal yang mubah, ibaratnya orang yang meninggalkan hal-hal yang wajib dan ber-taqarrub dengan hal-hal yang sunat.


Jika seseorang dengan makan dan minum berniat agar kuat badannya dalam shalat malam dan puasa maka ia mendapat pahala karenanya. Juga jika dengan tidurnya pada malam dan siang hari berniat agar kuat beramal (bekerja) maka tidurnya itu merupakan ibadah.


Jadi orang yang berpuasa senantiasa dalam keadaan ibadah pada siang dan malam harinya. Dikabulkan do’anya ketika berpuasa dan berbuka. Pada siang harinya ia adalah orang yang berpuasa dan sabar, sedang pada malam harinya ia adalah orang yang memberi makan dan bersyukur.


3. Syarat mendapat pahala puasa :
Di antara syaratnya, agar berbuka puasa dengan yang halal. Jika berbuka puasa dengan yang haram maka ia termasuk orang yang menahan diri dari yang dihalalkan Allah dan memakan apa yang diharamkan Allah, dan tidak dikabulkan do’anya.

Orang berpuasa yang berjihad :
Perlu diketahui bahwa orang mukmin pada bulan Ramadhan melakukan dua jihad, yaitu :
o Jihad untuk dirinya pada siang hari dengan puasa.
o Jihad pada malam hari dengan shalat malam.
Barangsiapa yang memadukan kedua jihad ini, memenuhi segala hak-haknya dan bersabar terhadapnya, niscaya diberikan kepadanya pahala yang tak terhitung. Lihat Lathaa’iful Ma ‘arif, oleh Ibnu Rajab, him. 163,165 dan 183.

RAHASIA IBADAH SYAUM

Ketahuilah bahwa dalam puasa itu ada bagian tertentu yang tidak ada dalam ibadah yang lain, yaitu pengaitannya kepada Allah Taala yang telah berifman dalam hadis qudsi yang artinya, “Puasa itu bagiku dan aku memberi balasan dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pengaitan ini sudah cukup sebagai bukti tentang kemuliaan puasa, sebagaimana keutamaan baitullah (Kakbah) yang dikaitkan kepada-Nya, dalam firman-Nya, Dan sucikanlah rumah-Ku.” (Al-Hajj: 26).

Kelebihan puasa itu dapat dilihat dalam dua makna sebagai berikut.
Puasa termasuk amal yang tersembunyi dan amal batin yang tidak bisa dilihat orang lain sehingga tidak mudah disusupi riya. Puasa sebagai cara untuk menundukkan musuh Allah. Karena, sarana yang dipergunakan musuh adalah sahwat. Sahwat bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selagi lahan sahwat tetap subur, maka setan bisa bebas berkeliaran di tempat gembalaan yang subur itu. Tetapi, jika sahwat ditinggalkan, jalan ke sana juga menjadi sempit. Dalam masalah puasa banyak terdapat riwayat yang menunjukkan keutamaannya, dan riwayat-riwayat ini cukup terkenal serta bertebaran di berbagai kitab.

Hal-Hal yang Dianjurkan dalam Puasa
Dianjurkan makan sahur dan mengakhirkannya, segera berbuka puasa dengan makan kurma. Dianjurkan banyak-banyak bersedekah pada bulan Ramadan, melakukan hal-hal yang makruf, dan mengikuti apa yang biasa dilakukan Rasulullah saw. saat beruasa. Selain itu, dianjurkan pula untuk banyak-banyak membaca Alquran, itikaf di masjid pada bulan Ramadan, apalagi pada sepuluh hari yang terakhir dan meningkatkan kesungguhan pada hari-hari ini.

Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadis Aisyah r.a., dia berkata, “Jika Nabi saw. memasuki sepuluh hari (yang terakhir pada bulan Ramadan), beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan waktu malamnya, dan membangunkan keluarganya.”

Ada dua hal yang bisa dipahami dari kebiasaan beliau tersebut di atas.
1. Tidak bercampur dengan istri.
2. Merupakan ungkapan tentang kesungguhan dalam beramal. Para ulama berpendapat bahwa sebab kesungguhan beliau pada sepuluh hari yang terakhir ini karena hendak mencari Lailatul Qadar.

Rahasia-Rahasia Puasa dan Adab-adabnya
Puasa mempunyai tiga tingkatan makna sebagai berikut.

Puasa secara umum ialah menahan perut untuk tidak makan dan minum serta menahan kemaluan untuk melampiaskan sahwat.

Puasa secara khusus ialah menahan pandangan, lidah, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota tubuh dari dosa.

Puasa secara khusus dari yang khusus ialah puasa hati dari hasrat-hasrat yang hina dan pikiran-pikiran yang menjauhkan dari Allah serta menahan diri dari hal-hal selain Allah secara keseluruhan.

Di antara adab puasa secara khusus adalah menahan pandangan mata, menjaga lidah dari ucapan-ucapan yang diharamkan dan dimakruhkan atau dari ucapan yang tidak bermanfaat, serta menjaga seluruh anggota badan. Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa tidak meninggalkan perkatan palsu dan pengamalannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya).”

Di antara adab orang yang berpuasa yaitu janganlah memenuhi perutnya dengan makanan pada malam hari. Tetapi, hendaknya dia makan sekadarnya saja. Sebab, tidaklah anak Adam itu mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya sendiri. Selagi pada petang harinya dia sudah merasa kekenyangan, maka waktu-waktu berikutnya sudah bisa memanfaatkannya. Begitu juga jika terlalu kenyang pada waktu sahur, maka waktunya tidak bisa dimanfaatkan secara optimal hingga mendekati waktu zuhur. Sebab, terlalu banyak makan hanya akan mengakibatkan malas dan lemas hingga hilanglah tujuan puasa gara-gara terlalu banyak makan. Sebab, tujuan dari puasa ialah agar dia merasakan lapar dan meninggalkan hal-hal yang menggugah selera.

Adapun puasa sunah dikerjakan pada hari-hari yang memiliki keutamaan, yang putarannya berlaku untuk setiap satu tahun, seperti puasa Asyura, sepuluh Zulhijah, dll. Sebagian ada yang putarannya sebulan, seperti puasa tiga hari setiap bulan, bisa sehari pada permulaan bulan, sehari pada pertengahan bulan dan sehari pada akhir bulan. Tetapi, yang paling baik adalah pada ayamul-bidh (tgl 13, 14, 15). Sebagian lagi putarannya setiap minggu, seperti puasa Senin dan Kamis.

Puasa sunah yang paling baik adalah puasa Nabi Daud a.s., yaitu sehari puasa sehari buka. Puasa Daud ini mengandung tiga makna.

Memberikan hak kepada diri pada saat tidak berpuasa, lalu memberikan hak ubudiyah kepadanya pada saat berpuasa. Sehingga, di sini ada penyatuan antara hak dan kewajibannya, dan ini merupakan cermin keadilan.

Saat tidak berpuasa merupakan hari syukur, dan saat puasa merupakan hari sabar. Karena, iman itu terdiri dari dua bagian: syukur dan sabar. Tentunya puasa ini akan membuat jiwa terasa lebih berat dalam mujahadah. Tetapi, selagi ia lalai karena kondisi tertentu, ia akan segera beralih darinya.

Adapun puasa secara terus-menerus, dalam riwayat Muslim disebutkan dari hadis Abu Qatadah r.a., bahwa Umar r.a. pernah bertanya kepada Nabi saw., “Lalu bagaimana dengan orang yang puasa terus-menerus tanpa henti?” Beliau menjawab, “Dia tidak puasa dan juga tidak bisa disebut tidak puasa.” Bisa saja hal ini ditakwili terhadap orang yang terus-menerus puasa pada hari-hari yang dilarang puasa. Tetapi, jika dia tidak berpuasa pada hari-hari yang dilarang puasa, seperti pada Idulfitri dan Iduladha serta hari-hari tasyriq, maka tidak apa-apa. Sebab, telah diriwayatkan dari Hisyam bin Urwah rhm. bahwa ayahnya terus-menerus berpuasa, dan Aisyah pun juga pernah berpuasa terus-menerus. Anas bin Malik r.a. berkata, “Abu Thalhah berpuasa terus-menerus sepeninggal Rasulullah saw. selama empat puluh tahun.”

Adab Puasa yang Khusus
Orang yang diberi kecerdasan akal tentu bisa mengetahui apa maksud dari puasa. Karena itu, kecerdasan dan pengetahuannya ini akan mendorongnya untuk membebani diri sendiri dengan amalan yang tidak membuatnya lemah, lalu meninggalkan apa-apa yang sebenarnya lebih utama.

Ibnu Mas’ud r.a. adalah orang yang tidak banyak puasa. Dia berkata, “Jika aku berpuasa, maka badanku menjadi lemah dan tidak kuat mendirikan salat. Sementara, aku lebih memilih salat daripada puasa.”

Ada pula yang jika berpuasa membuat badannya lemah sehingga tidak bisa membaca Alquran. Karena itu, dia lebih sering tidak berpuasa agar bisa banyak-banyak membaca Alquran. Setiap orang tentu lebih mengetahui keadaan dirinya.

Sumber: Minhajul Qashidin: Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk terjemahan dari Mukhtasyar Minhajul Qashidin, Al-Imam asy-Syekh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisy

Marhaban Yaa Ramadhan

Ramadhan bukan sekedar nama bulan Qamariyah, tapi mempunyai makna tersendiri.
Selama sebelas bulan bergelimangan dengan kehidupan yang penuh keduniaan,
beralih pada suasana yang penuh dengan amal taqarrub kepada Allah SWT.
Mulai dari menahan hawa nafsu, memperbanyak tilawah Al Qur’an, sujud dalam solat malam
dan ibadah lainnya. Tak lain agar menjadi orang yang bertakwa (QS Al Baqarah; 2:183).
Ramadhan adalah bulan yang banyak mengandung keistimewaan bagi orang yang beriman.
Bulan yang penuh dengan limpahan rahmat dan pengampunan bagi yang menyambut tibanya
bulan suci ini  dengan beribadah bersungguh-sungguh.
Ramadhan adalah penghulu segala bulan. Bulan yang membawa keberkahan, maka alangkah
mulianya. Hendaklah kita menyambutnya dengan ‘Selamat datang’ kepadanya; begitu sebuah
riwayat menandaskannya.
Nabi SAW bersabda “Sekiranya manusia mengetahui kebajikan-kebajikan yang terdapat pada
bulan Ramadhan, tentulah mereka mengharapkan supaya seluruh bulan adalah Ramadhan”.
(HR. Ibnu Huzaimah).
“Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam bulan Ramadhan dalam keadaan selamat dari berbagai
penyakit, hindarkan kami dari berbagai kesibukan dan hindarkan pula dari rasa cepat mengantuk”.
[Doa Ali bin Abi Thalib dalam rangka menyambut Ramadhan] -[lm-01 ]

Image by FlamingText.com
Image by FlamingText.com

ARSIP

TOP RATE

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: