#
Arsip

Tokoh

This category contains 11 posts

TOKOH : Mohammad Moursi

Mohamed_Morsi_croppedMohamed Mohamed Morsi Isa al-Ayyat (Arab Mesir: محمد محمد مرسى عيسى العياط, IPA: [mæˈħæmmæd ˈmoɾsi ˈʕiːsæ (ʔe)l.ʕɑjˈjɑːtˤ], lahir 20 Agustus 1951) adalah Presiden ke-5 Mesir yang menjabat sejak 30 Juni 2012.[1][2]

Morsi menjadi Anggota Parlemen di Majelis Rakyat Mesir selama periode 2000-2005 dan seorang tokoh terkemuka di Ikhwanul Muslimin. Sejak 30 April 2011, dia menjabat Ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sebuah partai politik yang didirikan oleh Ikhwanul Muslimin setelah Revolusi Mesir 2011. Ia maju sebagai calon presiden dari FJP pada pemilu presiden Mei-Juni 2012.

Pada tanggal 24 Juni 2012, Komisi Pemilihan Umum Mesir mengumumkan bahwa Mursi memenangkan Pemilu Presiden dengan mengalahkan Ahmed Shafik, Perdana Menteri terakhir di bawah kekuasaan Hosni Mubarak. Komisi Pemilihan menyatakan Morsi memperoleh 51,7 persen suara, sedang Shafiq mendapatkan 48,3 persen.[3] Morsi kemudian mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua FJP setelah kemenangan yang diraihnya.[4]

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Morsi lahir di Al-Sharqia, Mesir Utara. Ia meraih gelar sarjana dan magister di bidang teknik dari Universitas Kairo masing-masing pada tahun 1975 dan 1978. Kemudian, dia mendapatkan gelar PhD bidang teknik dari University of Southern California, Amerika Serikat pada 1982. Pada 1982-1985, dia menjadi asisten profesor di California State University at Northridge. Pada tahun 1985, ia kembali ke Mesir untuk mengajar di Universitas Zagazig.[5]

Karier Politik

Mursi menjadi anggota parlemen Mesir mewakili Zagazig selama periode 2000-2005. Ia terpilih sebagai calon independen, karena secara teknis Ikhwanul Muslimin dilarang mencalonkan kandidat presiden ketika Hosni Mubarak menjabat. Morsi menjadi anggota Kantor Bimbingan Ikhwanul Muslimin hingga mendirikan Partai Kebebasan dan Keadilan pada tahun 2011, usai Mubarak jatuh.

Setelah Khairat El-Shater didiskualifikasi dari pemilihan presiden 2012, Mursi, yang awalnya dicalonkan sebagai calon cadangan, muncul sebagai calon baru Ikhwanul Muslimin. Kampanyenya dibantu oleh seorang ulama terkenal Mesir, Safwat Hegazi pada unjuk rasa di El-Mahalla El-Kubra, pusat protes buruh di Mesir.

Setelah putaran pertama pemilihan presiden pertama di Mesir pasca-Mubarak, di mana jajak pendapat menunjukkan 25,5% suara rakyat untuk Morsi, dia secara resmi diumumkan sebagai presiden pada 24 Juni 2012 setelah pemungutan suara putaran berikutnya.

Pendukung Morsi merayakan kemenangan tersebut di Lapangan Tahrir, dan ledakan amarah pihak yang kalah meledak saat Otoritas Pemilihan Umum Mesir mengumumkan hasilnya. Mursi unggul tipis atas mantan Perdana Menteri Mesir era Mubarak, Ahmed Shafik, dan dikenal dengan karakter Islami-nya.

Pada tanggal 24 Juni 2012, Morsi diumumkan sebagai pemenang pemilu dengan 51,73% suara. Segera setelah itu, ia mengundurkan diri dari jabatan presiden Ikhwanul Muslimin.

Demonstrasi Mesir 2013 dan deklarasi pemberhentian

Pada tanggal 30 Juni 2013, demonstrasi besar berlangsung di penjuru Mesir menuntun pengunduran diri Presiden Morsi[6]. Bersamaan dengan demo anti-Morsi, para pendukungnya mengadakan demonstrasi tandingan di lokasi lain di Kairo.[7]

Pada 1 Juli 2013, Angkatan Bersenjata Mesir menerbitkan ultimatum 48 jam, memberi tenggat waktu hingga 3 Juli bagi partai untuk memenuhi tuntutan rakyat Mesir. Militer Mesir juga mengancam akan turut campur bila perselisihan tersebut tidak diselesaikan.[8] Empat menteri juga turut mengundurkan diri di hari yang sama, termasuk Menteri Pariwisata Hisham Zazou]], Menteri Komunikasi dan IT Atef Helmi, Menteri Negara Urusan Hukum dan Parlemen Hatem Bagato dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Khaled Abdel Aal[9], menyisakan pemerintahan dari Ikhwanul Muslimin saja.

Pada 2 Juli 2013, Presiden Morsi secara terbuka menolak ultimatum 48 jam dan bersumpah untuk menjalankan rencananya sendiri untuk rekonsiliasi nasional dan menyelesaikan krisis politik.[10]

Pada 3 Jul 2013 pada 21:00 (GMT+2), Abdul Fattah el-Sisi, Kolonel Jenderal Angkatan Bersenjata Mesir, mengumumkan announced a road map rencana mendatang Mesir, menyatakan bahwa Morsi telah dilengserkan dan mengangkat kepala Mahkamah Konstitusi sebagai pemegang jabatan sementara Presiden Mesir.[11]

Kehidupan pribadi

Morsi menikah dengan Naglaa Ali Mahmoud. Istrinya pernah menyatakan bahwa dia tidak ingin disebut sebagai “Ibu Negara” melainkan “Pelayan Rakyat [masyarakat Mesir]“. [34] [12]

Presiden Morsi memiliki lima anak: Ahmed Mohammed Morsi yang adalah seorang dokter di Arab Saudi, Shaima, lulusan Universitas Zagazig, Osama, pengacara, Omar, dan Abdullah yang masih seorang siswa SMA. Presiden Morsi juga memiliki tiga cucu.

Catatan kaki

  1. Muslim Brotherhood’s candidate and first president after Mobarak
  2.  “Egypt court: Military cannot arrest civilians”. The Examiner. 27 June 2012.
  3.  “Muslim Brotherhood candidate Morsi wins Egyptian presidential election”. Fox News.com. Diakses 24 June 2012.
  4. ^ “شورى الإخوان” يسمي مرسي رئيسًا لـ”الحرية والعدالة”. إخوان اون لاينApril وصل لهذا المسار في 1 مايو201
  5. “Interview with Mohamed Morsi”. Al-Jazeera. 29 January 2012.
  6.  “Egypt crisis: Mass protests over Morsi grip cities”. BBC News. 1 July 2013.
  7. Umar Farooq (30 June 2013). “Seeking New Leadership, Millions of Egyptians Take to the Streets”. The Atlantic.
  8.  Abdelaziz, Salma (1 July 2013). “Egyptian military issues warning over protests”. CNN. Diakses 1 July 2013.
  9. Patrick Werr. “Four Egyptian ministers resign after protests: cabinet official”. Reuters. Diakses 1 July 2013.
  10.  “Egypt crisis: President Morsi rejects army ultimatum”. BBC News. Diakses 2 July 2013.
  11. http://edition.cnn.com/2013/07/03/world/meast/egypt-protests/index.html?hpt=hp_t1
  12. Aya Batrawy (28 June 2012). “Morsi’s wife prefers ‘first servant’ to first lady”. The Globe and Mail. Diakses 2 July 2012.
  13.  “Newsmaker: Egypt’s Morsy goes from prisoner to president”. Reuters. 24 June 2012.

Cermin Kematian (in memoriam, Ibu Yoyoh Yusroh)

CERMIN KEMATIAN
by Agoes ‘GusPur’ Poernomo
(Aleg PKS DPR RI)

Hampir sama
Antara kehidupan yang baik
Dengan kematian yang baik
Keduanya sama-sama baik

Hampir sama
Antara kehidupan yang buruk
Dengan kematian yang buruk
Keduanya sama-sama buruk

Cara mati kita
Hanya cermin
Cara hidup kita

(Senyum bahagia Da’iyah Syahidah alm. Yoyoh Yusroh)

Sumber: pkspiyungan.blogspot.com

Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwwah

Akhlaq – Shalawat Atas Nabi SAW

Oleh : KH. Rahmat Abdullah

Apa yang Tuan pikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak ada seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta’dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan adzan.

Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktrur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya menjadi manja dan hilang kemandirian. Saat bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan: “Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri kamu biarkan dia dan apabila yang mencuri itu rakyat jelata mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya.”

Hari-harinya penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk — lebih dari satu dua kali — berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Ash- Shiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Ash-Shiddiq, sesuai dengan namanya “si Benar”.

Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para shahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: “Labbaik”. Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai “orang rumah”.

Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia. “Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku.” “Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina,” demikian pesannya.

Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau di panglimai shahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Qur’an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua pertempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.

Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tibatiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para shahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka: “Jangan. Biarkan ia menyelesaikan hajatnya.” Sang Badui terkagum. Ia mengangkat tangannya, “Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami.” Dengan senyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.

Ia kerap bercengkerama dengan para shahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka; yang merdeka, budak laki- laki atau budak perempuan, serta kamu miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit di ujung Madinah. Ia terima permohonan ma’af orang. Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum shahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah shahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya.
Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh. Ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia sholat, ia cepat selesaikan sholatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.

Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: “Seandainya ada seorang shalih mau mengawalku malam ini.” Dengan kesadaran dan cinta, beberapa shahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para shahabat bergegas ke arah sumber suara. Ternyata Ia telah ada di sana mendahului mereka, tagak di atas kuda tanpa pelana. “Tenang, hanya angin gurun,” hiburnya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas.

Ummul Mukminin Aisyah Ra. Berkata : “Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang dimakan makhluk hidup, selain setengah ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum.”

Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat seerhana dan pakaian tak lebih dari 4 dirham, seraya berkata,”Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum’ah.” Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan.

Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucapkan shalawat atasnya: “Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat do’a yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk ummatku kelak di padang Mahsyar nanti.”

Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit. Ia menolak, “Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan dari sulbi mereka kelak akan menerima da’wah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.” Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran juwanya. Pertama, Allah, Sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, shahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta. Kedua, Ummati, hamparan akal, nafsu dan perilaku yang
menantang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.

Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan- Nya bahwa Ia dan para malaikat bershalawat atasnya (QS 33:56 ), justru Ia nyatakan dengan begitu “vulgar” perintah tersebut, “Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam.”

Allahumma shalli ‘alaihi wa’ala aalih !

Allahuyarham Ust. Rahmat Abdullah dan Palestina

Ustadz Rahmat Abdullah adalah seorang guru yang perlu ditiru, pembina yang bijaksana, murabbi yang rendah hati, lahir di kampung Betawi daerah Kuningan, Jakarta Selatan, 3 Juli 1953. Putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan Abdullah dan Siti Rahmah.

Beliau pernah menuntut ilmu di pesantren “Perguruan Islam Asy Syafi’iyah”, Bali Matraman, Jakarta Selatan, sekaligus berguru kepada pendiri pesantrenPerguruan Islam tersebut, seorang ulama yang tegas dan kharismatik, KH. Abdullah Syafi’i.

Kecintaannya kepada ilmu, dunia pendidikan dan pembinaan (tarbiyah) meyebabkan beliau mengajar di almamaternya dan Darul Muqorrobin, Karet, Kuningan, Jakarta Selatan, serta membina pemuda-pemuda yang berada di sekitar rumahnya.

Guru beliau lainnya adalah Ustadz Bakir Said Abduh, lulusan perguruan tinggi Mesir, pengelola Rumah Pendidikan Islam (RPI), Kuningan Jakarta Selatan. Melalui ustadz Bakir Said Abduh, Ustadz Rahmat banyak membaca buku-buku karya ulama Al-Ikhwan Al-Muslimin, salah satunya adalah buku Da’watuna (Hasan Al-Banna) yang kemudian ia terjemahankan menjadi Dakwah Kami Kemarin dan Hari Ini (Pustaka Amanah).

Sebagai seorang Ustadz dan seorang Murabbi, beliau tidak berpikiran sempit, memiliki wawasan yang luas, memiliki perhatian dan kepedulian terhadap permasalahan dunia Islam, seperti Afghanistan, Bosnia, khususnya Palestina yang masih dijajah Zionis Israel.

Ketika masyarakat Jakarta mengikuti aksi damai “SELAMATKAN AL AQSHA”, Ahad, 17/4/2005, yang diadakan DPP PKS dan diikuti 250.000 massa.

Ustadz Rahmat Abdullah walaupun dalam keadaan sakit, beliau turut serta dan tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian membela rakyat Palestina dan Masjid Al-Aqsha yang akan dihancurkan oleh tangan kotor Zionis Israel.

Bahkan beliau ikut long march dari bundaran HI ke Kedutaan Besar AS di Jl. Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, dan melakukan orasi membangkitkan semangat kader dakwah dalam perjuangan dan membela saudaranya di Palestina yang sedang dizalimi penjajah Israel.

Di antara isi pidatonya adalah:

*”Yang mati ditikam sudah banyak, yang mati kena narkoba melimpah, yang mati kebut-kebutan kecelakaan lalulintas sudah banyak. Indonesia bertanya, siapa yang mati dengan seni kematian yang paling indah? Seni kematian yang paling baik membela ajaran Allah, membela mereka yang tertindas dan teraniaya. Mungkin banyak yang ngeri dengan istilah tadi. Sekedar berjalan kaki dari HI kemari (ke depan kedubes AS) belum berarti apa-apa. Tetapi ini akan jadi sangat berarti bagi saudara-saudara kita di Palestina. Tahukah saudara-saudara sekalian?! Di tengah derita mereka, hidup bertahun-tahun ditenda dan rumah-rumah darurat, ternyata saudara-sadara kita di Palestina masih sempat mengirimkan sumbangan untuk saudara-saudara kita di Aceh (korban gempa dan Tsunami) kemarin. Karena yang bisa memahami derita adalah orang yang sama–sama menderita, oleh karena itu walaupun kita tidak dalam derita seharusnya punya kepekaan, punya kepedulian dan punya hati yang halus dan lembut untuk bisa mendengar rintihan suara anak–anak di Palestina“.*

Kehadiran Ustadz Rahmat dalam Aksi Solidaritas untuk Palestina dengan tema “SELAMATKAN AL AQSHA”, Ahad, 17/4/2005 dan orasinya di depan kedubes AS, merupakan kehadiran beliau untuk yang terakhir kalinya dalam mengikuti Aksi Pembelaan untuk Palestina, karena dua bulan setelah Aksi Solidaritas tersebut tepatnya pada hari Selasa, 14 Juni 2005, beliau wafat pada usia 52
tahun, dengan meninggalkan seorang isteri dan tujuh orang anak. Jasad beliau dikuburkan di samping komplek Islamic Center IQRO’, Jati Makmur, Pondok Gede, Bekasi.

“*Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)“.* (QS. Al-Ahzab/33:23)

Doa Ustadz Rahmat*: **”Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu …Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman…Kepada nenek moyang kami penyembah berhala…Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah…Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran…Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami…Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini…Dengan sikap malas dan enggan berda’wah…Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa“.*

H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA

Asy-syahid ‘Syeikh Izzuddin al-Qassam’

Pada tanggal 20 November 1935, haru Rabu, di Ahrasy Ya’bad, Jenin, Palestina terjadi sebuah perang yang tidak seimbang antara ratusan tentara Inggris dengan persenjataan lengkap dan bantuan helikopter pengintai melawan sepuluh pasukan mujahidin dengan persenjataan seadanya.

Pada peristiwa itu, pasukan mujahidin dipimpin oleh Syaikh Izzudin Al Qassam yang sehari-harinya bertugas sebagai Imam Masjid Istiqlal, Ketua Jam’iyah Syubbanul Muslimin dan pencatat nikah KUA.

Syaikh Izzudin Al Qassam memerintahkan kepada pasukannya untuk memilih mati syahid daripada mundur ketika terjado pengepungan. Satu per satu mujahidin berguguran. Termasuk Syaikh Izzudin Al Qassam sendiri. Tiga sahabatnya juga syahid: Yusuf Abdullah, Hanafi Atuyyah, dan mUhammad Abdul Qassim.

Tahun 1911 beliau memobilisasi senjata dan sukarelawanuntuk turun ke medan jihad di Libya. Ketika Perancis menganeksasi Syiria, ia menjual rumahnya dan membeli 34 pucuk senjata sebagai alat perlawanan dan melawan pasukan oenjajah. Perjuangannya ini dikhianatini oleh revolusi pimpinan Ibrahim Hanano yang menyerahkan Syiria pada penjajah. Ketika ia ditangkap dan dijatuhi vonis mati, ia melarikan diri ke Haifa di Palestina.

Dalam menyukseskan jihadnya, ia mengambil dan melakukan rekrutmen milisi dengan ketat. Hanya yang beriman dan siap matilah yang akan menjadi pasukannya. Ia berhasil merekrut 800 pengikut dan simpatisan.

Operasi p[ertama yang dilakukannya adalah melakukan penyerangan ke pemukiman Yahudi Nahlal di kawasan Marj Amir. Hasilnya kepala penjara Haifa terbunuh dan dua anaknya terluka. Reward senilai 500 poundsterling diberikan pad siapa yang bisa memberikan informasi pelakunya. Syaikh Izzudin mengalami masa-masa pengejaran oleh Inggris.

Anak prempuannya yang bernama Maimunah sempat memintanya untuk menghentikan perlawanan senjata dan diganti dengan cara damai saja. Tentu saja Syaikh marah dan berkata, “Diamlah wahai Maimunah, tidaklah kemuliaan teraih dan tercabut dari segala penderitaan kecuali melalui tetesan darah!”

Di kawasan Nashirah, ia dan pasukannya berhasil membunuh 11 orang Yahudi. Berbagai operasi digelar Inggris untuk menghentikan jihadnya. Di kawasan Ja’bad, beliau syahid dalam sebuah pengepungan. Di saku bajunya, terselip mushaf Al Qur’an yang menjadi identitas dirinya dan sumber kekuatannya.

Perjuangan.

Izzudin al Qossam atau yang mempunyai nama lengkap Abdul Qadir Mustafa
Al Qassam. Lahir pada tahun 1871, di Provinsi Al Ladziqiyyah, Syiria
bagian Selatan. Ia berasal dari keluarga miskin, namu berakhlak mulia.
Belajar pertama kali di Al Azhar dari Muhammad Abduh dan bersahabat
kental dengan Muhammad Rasyid Ridho.

Ilmu yang diperolehnya disebarkan dengan penuh keikhlasan tanpa kenal
lelah. Ia tidak hanya berceramah, tetapi juga benyak berbuat. Tahun
1911, beliau memobilisasi senjata dan sukarelawan untuk turun berjihad
di Libya. Beliau mampu menggelorakan perlawanan agar tidak termasuk
barisan orang-rang munafik.

Ketika Prancis menganeksasi Syiria, ia menjual rumahnya lalu dibelikan
34 pucuk senjata sebagai alat perlawanan dirinya dan pasukannya melawan
penjajah. Sayang, perjuangan suci Al Qassam dikhianati oleh revolusi
pimpinan Ibrahim Hanano yang menyerahkan Syiria kepada penjajah dan
menangkapi para pejuang. Ketika Al Qassam mendapat vonis hukuman mati,
melarikan diri ke Haifa, Palestina.

Di Haifa, api jihadnya semain berkobar lantaran melihat kekejaman
Inggris yang merangsek masuk dan menjajah. Khutbah-khutbahnya mampu
membangkitkan semangat jihad para mujahidin untuk melawan musuh-musus
Islam, ketika banyak ulama hanya sibuk mengajak fiqh thaharah atau sibuk
dengan tarian sufi. Pihak penjajah semakin mencium pengaruh kuat Al
Qassam yang bergitu kuat dan mengakar. Untuk itu, Al Qassam menjadi
sasaran target pengantian intelejen yang mulai disebar.

Agar sukses dalam misi jihadnya dan melakukan rekrutmen milisi yang
ketat. Hanya orang yang beriman dan siap matilah yang akan dijadikan
pasukannya (subhanallah). Beliau berhasil mengumpulkan dan memiliki
lebih dari 800 pengikut dan simpatisannya jihadnya. Atas dasar inilah,
Al Qassam tidak mau bergabung dalam muktamar di Masjidil Al Aqsha tahun
1928 dan 1931. Ia lebih fokus bergerak di bawah tanah (underground)
untuk mengusir Inggris.

Operasi pertamnya adalah menyerang permukiman Yahudi Nahlal di kawasan
Marj Amir. Hasilnya, kepala penjara Haifa terbunuh, dan dua anaknya
terluka. Tentara Inggris mengumumkan akan memberi hadiah 500
poundsterling bagi siapa yang bisa memberikan informasi pelukanya. Al
Qassam harus pintar bersembunyi dari kejaran pasukan Inggris. Anak
perempuannya yang bernama Maimunah sempar memintanya untuk menghentikan
perlawanannya bersentaja dan diganti dengan cara damai saja. Al Qassam
pun marah dan berkata, "Diamlah hawai Maimunah, tidaklah kemuliaan
teraih dan tercabut dari segala penderitaan kecuali melalui tetesan
darah."

Di kawasan Nashirah, Al Qassam dan pasukannya berhasil membunuh 11 orang
Yahudi. Kemarahan Inggris terhadap Al Quran semakin meningkat dan
berbagai operasi pun digelar untuk menghentikan jihadnya. Hingga pada
Rabu di pagi hari tanggal 20 November 1935 tepatnya di Kota Ashrasy
Ya'bad, kota Jenin, Palestina terjadi lah pertempuran atau
peperangan yang tidak seimbang antara ratusan pasukan Inggris yang
bersenjatakan lengkap dan bantuan helikopter pengintai dengan sepuluh
mujahidin dengan persenjataan seadanya.

Pada legendaris itu, pasukan mujadihidin yang dipimpin oleh Syaikh
Izzudin Al Qassam yang sehari-harinya bertugas sebagai imam Masjid
Istiqlal, ketua Jamaah Syuban Al Muslimin, dan pencatat nikah KUA. Dalam
peperangan yang tidak seimbang itu, syaikh Izzudin Al Qassqm
memerintahkan pasukannya untuk memilih mati syahid dari pada mundur,
saat para mujahidin telah dikepung rapat oleh pasukan Inggris. Dan
akhirnya syaikh Izzudin Al Qassam bersama sembilan pasukannya meraih
kematian yang di muliakan dan menjadi cita-cita seorang mujahid yaitu
SYAHID yang menyertainya ruh sucinya menemui Rabb Nya. Di saku bajunya
terselip mushaf Al Quran yang menjadi identitas dan sumber kekuatan
seorang muslim.

Hingga sampai saat ini nama Izzudin Al Qassam melegenda sebagai mujahid
sejati dan dijadikan nama Brigade (sayap) militer milisi perjuangan
rakyat Palestina dari HAMAS yaitu Brigade Izzudin Al Qassam.

---o]![o–

Syaikh Sorang Salafy

Belakangan sebagian orang mempermasalahkan afiliasi Syaikh Izzudin Al Qassam. Permasalahan muncul karena Hamas mengabadikan namanya sebagai nama sayap militernya: Brigade Izzudin Al Qassam. Hamas secara terbuka menyatakan diri sebagai sayap Ikhwanul Muslimin di Palestina sebagaimana yang tercantum dalam piagam pendiriannya. Seorang syaikh Salafi menyatakan bahwa Syaikh Izzudin Al Qassam bermanhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah sehingga dianggap ‘tidak etis’ jika namanya digunakan oleh kelompok yang berbentuk hizb seperti Hamas. Tentu saja pernyataan ini benar karena semua muslim anggota Ikhwanul Muslimin beraqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan bermanhaj Salaf.

Ana memang tidak menemukan data tentang keterlibatan Syaikh Izzudin Al Qassam dengan Ikhwan secara riil karena Ikhwan memang secara resmi berdiri pada tahun 1928. Sedangkan perjuangan Syaikh Izzudin Al Qassam tentu dimuali sekitar tahun 1924, setelah Khlafah dipecah-pecah. Tapi pemikiran yang senada dengan Ikhwan memang sudah ada sebelumnya. Pemikiran ini dibawa oleh Syaikh Muhammad Abduh, Syaikh Jamaluddin Al Afghani, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dan lainnya.

Selain itu, setahu ana, Jam’iyah Syubbanul Muslimin adalah salah satu cabang organisasi Ikhwan. Bagi yang tahu sejarah Hasan Al Banna pasti sangat tahu nama Jam’iyah Syubbanul Muslimin. Markaznya di Kairo merupakan tempat terakhir yang dikunjungi Hasan Al Banna sebelum konspirasi insiden pembunuhannya.

Selain data tersebut, ana belum memiliki data yang lain. Oleh karena itu, kalau ada data yang lebih valid dan berkualitas, ana akan mengikuti yang lebih benar.

Sebenarnya tidak penting mempermasalahkan afiliasi Syaikh Izzudin Al Qassam. Yang penting saat ini adalah bagaimana menyelesaikan konflik Palestina dan kepada siapa kita harus membantu. Apakah kepada rakyat Palestina melalui berbagai kelompoknya seperti Fatah, Hamas dan Jihad Islam, atau kepada Israel, atau kepada Mesir, atau kepada Libanon, atau kepada Hizbullah yang Syi’ah, atau kepada Arab Saudi, atau kepada Amerika, atau malah kepada Israel?

Yang jelas saat ini yang secara langsung mempertahankan tanah Palestina adalah rakyat Palestina sendiri, di Jalur Gaza dengan Hamas. Arab Saudi yang merupakan Negara petrodollar dan sebagian besar ulamanya adalah Salafi telah berencana menyumbang dana snilai 1 milyar dollar untuk rekonstruksi Gaza. Indonesia melalui pemerintahnya telah menyumbang senilai 1 juta dollar. Tak terkecuali banyak juga institusi sipil yang menyalurkan bentuan ke Palestina seperti KISPA, KNRP, PKS, MER-C dan sebagainya.

Janganlah kita menghujat satu pihak lain yang membantu saudaranya yang terzhalimi, sementara kita tidak berbuat apa-apa!

Itulah sepenggal kisah syahid Syaikh Izzudin Al Qassam yang ana nukilkan dari Buku Mozaik Syuhada Ikhwanul Muslimin karangan Prof. DR. Yusuf Al Wai’y terbitan Fitrah Rabbani.

Asy-Syahid Syaikh Ahmad Yasin :”Menggerakan Dunia dari Kursi Roda”

Dia adalah seorang mukmin yang merdeka meski seluruh hidupnya dibelenggu dengan terali besi. Itulah gambaran indah yang mencerminkan kehidupan Syaikhul Mujahidin, Guru para Mujahid dan perlawanan ini. Meskipun sebenarnya gambaran tersebut kalah indah dengan kalbunya yang menghembuskan kehidupan serta tekadnya yang tidak pernah lumpuh dan tidak terbelenggu oleh ikatan penjara. Beliau adalah cakrawala yang luas serta pikiran yang hidup yang tidak mengenal batas.

Demikianlah kehidupannya di penjara dan begitulah kisahnya saat berada di medan dakwah dan perlawanan, seperti yang dituturkan oleh orang-orang yang mendampinginya, mengenai sosok yang tidak mampu bergerak, namun bisa menggerakkan dunia. Tidak salah bila kemudian Dr. Kamal al Mishri, seorang penulis asal Mesir di laman islamonline menulis tentang sosok manusia istemewa ini dalam sebuah artikelnya dengan judul Al Syaikh Yaseen .. Al Aqid Alladzi Aqama al Alam (Syaikh Yasin .. Orang Lumpuh yang Membangunkan Dunia). Kata Kamal al Mishri, ketika Anda melihat (realita fisiknya) kemudian Anda mendengar capaian-capaian yang dihasilkan, Anda akan memahami betul firman Allah swt di dalam hadist qudsi, Maka jika Aku mencintainya, Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku adalah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku adalah tangannnya yang dia gunakan untuk memukul, dan Aku adalah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. (HR. Bukhari).

Kalbu yang senantiasa menghembuskan nafas kehidupan bagi umat dan bangsanya serta tekad yang tak pernah kenal lumpuh dan belenggu ini telah menjadikan kata-katanya penuh hikmah bagi siapa saja yang mendengarnya, sekaligus menjadi rudal yang menggetarkan bagi musuh-musuhnya.

Dia bukanlah seorang presiden ataupun seorang raja. Dia hanyalah seorang lelaki lumpuh yang membangun ide perlawanan hingga menjadi sosok yang tidak disebut kecuali dengannya. Sampai hari ini, setiap orang baik lawan maupun kawan tetap menaruh hormat kepadanya. Namanya senantiasa disebut di seluruh dunia. Dialah Amir Mujahidin Palestina, mujahid Ahmad Yasin, gugur perlawanan yang gugur oleh tangan-tangan biadab Zionis Israel dalam serangan rudal dari pesawat heli tempur Apache buatan Amerika, selepas shalat subuh di masjid kota Gaza, Senin 22 maret 2004 lalu.

Wahai anak-anakku, telah tiba saatnya kalian kembali kepada Allah swt., meninggalkan berbagai sorak kehidupan dan menyingkirkannya ke tepi jalan. Telah tiba saatnya kalian bangun dan melakukan salat subuh berjamaah, saatnya kalian menghiasi diri dengan akhlak mulia, mengamalkan kandungan al Qur’an, serta meneladani Muhammad saw.

Aku mengajak kalian wahai anak-anakku untuk shalat tepat waktu. Lebih dari itu, aku mengajak kalian, wahai anak-anakku, untuk mendekat kepada Nabi kalian yang agung.

Wahai para pemuda, aku ingin kalian mengenal dan menyadari makna tanggung jawab, tegar menghadapi kesulitan hidup, meninggalkan keluh kesah, menghadap kepada Allah swt., banyak meminta ampunan kepada-Nya agar Dia memberi rezeki kepada kalian, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Aku ingin kalian tidak terlena oleh saluran-saluran lagu audio visual, melupakan kata-kata yag mengobral cinta, serta menggantinya dengan kata amal, kerja, dan zikir kepada Allah. Wahai anak-anakku, kuharap kalian tidak sibuk dengan musik dan terjerumus ke dalam arus syahwat.

Wahai putriku, aku ingin kalian berjanji kepada Allah mempergunakan hijab secara benar. Aku meminta kalian berjanji kepada Allah peduli dengan agama dan Nabi kalian yang mulia. Jadikanlah ibunda kalian, Khadijah dan Aisyah, sebagai teladan. Jadikan mereka sebagai pelita hidup kalian. Haram hukumnya bagi kalian membuat usaha para pemuda untuk menjaga mata mereka menjadi kendur dan surut.

Kepada semuanya, aku ingin kalian bersiap-siap menghadapi segala sesuatu yang akan datang. Bersiaplah dengan agama dan ilmu pengetahuan. Bersiaplah untuk belajar dan mencari hikmah. Belajarlah bagaimana hidup dalam kegelapan yang pekat. Latihlah diri kalian agar dalam beberapa saat hidup tanpa listrik dan perangkat elektronik. Latihlah diri kalian agar dalam sementara waktu merasakan kehidupan yang keras. Biasakan diri kalian agar dapat melindungi diri dan membuat perencanaan untuk masa depan. Berpeganglah kepada agama kalian. Carilah sebab-sebabnya dan tawakallah kepada Allah.

Itulah sepenggal pesan yang disampaikan pendiri dan tokoh spiritual Gerakan Perlawanan Islam Hamas ini, kepada anak-anak muda Palestina. Melalui kata-kata yang jelas dan tulus bersumber dari kalbu tanpa dibuat-buat, dengan spontanitas yang jujur serta kejelasan yang menerangkan jalan dan memimpin perjalanan, melalui berbagai makna kasih sayang yang dapat mengarahkan para pemuda dan menuntun mereka, beliau berbicara seraya membaca kondisi jiwa mereka. Beliau berbicara kepada mereka lewat realitas kondisi yang ada sehingga mampu membangun sebuah perjuangan yang membutuhkan keimanan dan kesiapan semaksimal mungkin. Lalu sisanya diserahkan kepada Allah swt.

Syaikh Ahmad Yasin adalah sosok manusia intimewa dan unik pada zamannya, tokoh besar dan bintang bagi orang-orang sejenisnya, menjadi cahaya bagi rekan-rekannya, sosok menakjubkan bagi mereka yang hidup di masanya, perhiasan bagi tokoh setarafnya, pahlawan di era kekalahan, pemberani di tengah iklim ketakutan, pemimpin di samudera kelemahan, raksasa di tengah kehinaan, kemuliaan di medan kerendahan. Sosok yang menjadi harapan di tengah segala kebuntuan, sosok ketegaran dalam menghadapi kekalahan dan keruntuhan. Dia adalah pribadi yang memiliki hikmah di tengah kerancuan, ketergelinciran akal, kebutaan mata hati dan keimanan di tengah-tengah suasana keterkoyakan dan hilangnya identitas. Dia adalah sosok yang meneguhkan keyakinan pada pertolongan Allah dan janji-Nya terhadap kaum mukmin di tengah kegelapan, kesesatan, kebencian para musuh, dan kecemasan jiwa.

Seperti diungkapkan Prof. Dr. Taufiq Yusuf , dalam karyanya al-Qaadat al-Jihaad al-Filistiini fii al-Ashr al-Hadiits: Kifaah, Tadhiyyah, Butuulaat, Syahaadaat, semua gambaran di atas terdapat pada sosok lumpuh yang tak mampu berdiri ini; sosok yang kedua tangannya pun lumpuh tidak mampu membawa sesuatu; sosok yang kurus dan lemah; tubuh yang terserang oleh berbagai penyakit; penglihatan yang telah kabur kecuali hanya seberkas sinar dari satu mata; serta penderitaan dan sakit yang tak kunjung reda. Bukankah ini sesuatu yang menakjubkan? Bukankah ia merupakan tanda kebesaran Tuhan dan wujud anugerah-Nya? Sosok tersebut hidup untuk misi dan untuk umatnya. Ia menghabiskan usianya dalam dakwah. Ia adalah jihad yang terus berjalan, teladan yang terus bergerak, panutan yang memancarkan cahaya dan keimanan, serta pemahaman dan pengetahuan di tengah jarangnya orang yang tulus, di tengah sedikitnya keikhlasan, serta di tengah lenyapnya suara kebenaran dan ketegasan. Syaikh Yasin datang sebagai pemimpin bagi para mujahed, tokoh bagi para dai, guru yang bijak dan teladan yang agung bagi para pendidik. Tubuhnya yang kurus, kelumpuhannya, dan penyakit yang kronis membuatnya tidak mampu berjuang dengan senjata. Karena itu, beliau berjuang dengan senjata hikmah, dengan pedang pembinaan dan penataan, dengan meriam keimanan, serta dengan bom kesabaran, keteguhan, dan ketegaran. (Dari berbagai sumber)

Asy-Syahid Mustafa Masyhur : “Mursyidul-Am Ikhwan dalam kenangan”

(RENTETAN PERJUANGAN DAN KISAH KEMATIANNYA)

mustafaBulan November menyaksikan ramai tokoh gerakan Islam meninggal dunia. Lebih kurang 70 tahun yang lalu, bumi Palestin menyaksikan Syeikh Izzuddin Al Qassam dibunuh syahid oleh penjajah Britain.

Pada 1985, Ustaz Ibrahim Libya dan 13 anak muridnya dibunuh di Kampung Memali. Empat tahun kemudian (1989) Dr Abdullah Azzam pula di bunuh syahid di Peshawar, Pakistan. Semua ini berlaku pada bulan November.

Tetapi kematian tokoh Islam yang berlaku beberapa hari lalu agak berbeza dengan tokoh-tokoh sebelumnya. Ini kerana tokoh ini menghembuskan nafasnya dalam bulan November yang juga bulan Ramadhan yang penuh barakah. Lebih dari itu, tokoh ini meninggal dunia ketika umat Islam sedang bersiap-siap untuk mempertingkatkan ibadat di malam Jumaat. Jika orang lain meninggalkan wasiat berkaitan harta kepada anak-anak, maka tokoh ini sempat menulis wasiat kepada seluruh umat Islam supaya berjuang membebaskan Baitul Maqdis dan Palestin daripada penjajahan Yahudi.

Tokoh yang dimaksudkan ini ialah Ustaz Mustafa Masyhur, Mursyidul-Am Ikhwanul Muslimin yang kelima. Setelah enam tahun memimpin gerakan Islam yang tertua dan terbesar di dunia ini, beliau dipanggil ilahi dengan penuh kemuliaan.

Ustaz Mustafa, 81, dilahirkan pada 15 September 1921 di Kampung Saadiyyin, Muhafazah Syarqiyyah, Mesir. Beliau terdidik di dalam suasana keluarga yang berpegang teguh dengan agama.

SERTAI IKHWANUL MUSLIMIN

Al Marhum menyertai jamaah Ikhwanul Muslimin lapan tahun selepas penubuhannya iaitu pada tahun 1936. Kisah penyertaannya ke dalam jamaah berkenaan agak menarik. Ketika berhijrah ke Kaherah, beliau sering mengunjungi sebuah masjid berhampiran kediamannya. Suatu hari, ketika di masjid, beliau melihat seorang lelaki sedang menyebarkan risalah yang mengiklankan ceramah agama di sebuah masjid.

Atas sifatnya yang sangat cintakan ilmu dan majlis pengajian agama, beliau menghadirkan diri ke majlis berkenaan. Di penghujung pengajian, penceramah berkenaan mengumumkan bahawa seorang tokoh ulamak ternama, Ustaz Hasan Al Banna akan berkunjung ke situ untuk menyampaikan ceramah. Sekali lagi timbul perasaan di hati Ustaz Mustafa untuk menghadiri majlis berkenaan.

Di pendekkan cerita, disebabkan kagum dengan kedua-dua ceramah inilah beliau membuat keputusan untuk menyertai gerakan Ikhwanul Muslimin.

Ikhwan Muslimin ditubuhkan oleh Mursyidul Amnya yang pertama, Hasan Al Bana empat tahun selepas kejatuhan Khilafah Othmaniyyah Turki (1924) iaitu pada tahun 1928. Pengaruh Ikhwan tersebar ke seluruh dunia Arab dan sebahagian negara umat Islam.

Matlamat perjuangan Ikhwan ialah berjuang untuk menegakkan negara Islam tanpa kekerasan. Di samping itu mereka berjuang untuk melakukan perubahan dan pembaikan politik dan ekonomi secara berperingkat. Ikhwan turut mementingkan sudut tarbiyyah bagi memastikan ahli-ahlinya berpegang teguh dengan ajaran Islam yang sebenar.

Pengaruh Ikhwan sangat besar. Bahkan penubuhan jamaah, parti dan gerakan Islam di seluruh dunia adalah rentetan daripada penubuhan Ikhwan.

Kini Ikhwan Muslimin menguasai 17 daripada 454 kerusi parlimen Mesir di samping banyak kerusi lain di beberapa negara Arab.

Ustaz Mustafa sangat kagum dengan perjuangan Islam yang dibawa oleh Ikhwan. Daripada sebagai ahli biasa, hinggalah akhirnya dipilih sebagai pemimpin tertinggi.

Beliau menjalankan amanah memegang jawatan Mursyidul Am yang disandangnya sejak 1996 hinggalah keadaannya yang sudah tidak berdaya lagi pada 29 Oktober lalu. Sejak itu, jawatan berkenaan dipangku oleh Ustaz Makmun Hudhaibi. Berkemungkinan beliau akan dipilih sebagai Mursyidul Am dalam pemilihan yang akan diadakan beberapa hari lagi.

Makmun, 83, ialah anak kepada Mursyidul Am Kedua selepas Hasan Al Bana, Hasan Hudhaibi (1950-1973). Makmun pernah menjadi ketua hakim di Kaherah serta pernah mengetuai 37 calon Ikhwanul Muslimin menyertai pilihanraya Dewan Rakyat (Parlimen) pada tahun 1973.

UJIAN

Dalam menjalankan amanah jamaah dan amanah agama, Ustaz Mustafa pernah dipenjarakan beberapa kali pada zaman pemerintahan Jamal Abdun Nasir dan kali terakhir ialah pada tahun 1965 hingga 1971 (enam tahun). Sebaik sahaja Anwar Sadat mengambil-alih pemerintahan, beliau memberikan keampunan kepada ramai anggota Ikhwan yang dipenjara. Mustafa termasuk di kalangan mereka yang dibebaskan.

Walaubagaimanapun, Sadat cuba menangkapnya kembali. Untuk menyelamatkan diri, beliau berhijrah ke Kuwait beberapa ketika sebelum operasi penangkapan beramai-ramai dilakukan pada tahun 1971. Beliau kemudian tinggal di Jermen selama lima tahun dan di sana beliau mengatur gerakan menyebarkan pengaruh Ikhwan ke seluruh dunia.

Beliau pulang ke Mesir beberapa ketika sebelum Mursyidul Am ketika itu, Syeikh Umar Tilmisani meninggal dunia. Jawatan Mursyidul Am kemudiannya diambil-alih oleh Syeikh Hamid Abun Nasr dan Mustafa menjadi timbalannya.

Setelah Syeikh Hamid meninggal dunia pada tahun 1996, Syeikh Mustafa Masyhur dilantik sebagai penggantinya. Februari lalu (2002) beliau sekali lagi dipilih untuk meneruskan khidmatnya sebagai Mursyidul Am. Pemilihan tersebut dibuat selepas Ikhwan membuat pindaan tempuh khidmat Mursyidul Am kepada enam tahun.

Ustaz Mustafa turut diundang menyampaikan ceramah di serata dunia. Bahkan ketika permulaan krisis selepas kemenangan mujahidin di Afghanistan, beliau mengetuai delegasi pemimpin-pemimpin gerakan Islam seluruh dunia pergi kek Kabul untuk mendamaikan kumpulan-kumpulan mujahidin.

Walaupun menghadapi pelbagai rintangan dan halangan, Ustaz Mustafa tetap berada di dalam saf perjuangannya dan tidak meninggalkan jamaah sehinggalah beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.

KISAH KEMATIAN

Pada 29 Oktober lalu, selepas pulang dari pejabatnya, beliau berehat seketika. Apabila azan Asar dilaungkan, anak perempuannya cuba mengejutkannya daripada tidur. Sebaik terjaga daripada tidur, didapati dirinya begitu tidak bermaya sekali. Beliau diserang sakit yang melibatkan otaknya.

Melihatkan keadaan bapanya, si anak menasihati Ustaz Mustafa supaya menunaikan solat di rumah sahaja. Namun tarbiyyah mantap yang diterimanya menghalang beliau untuk menunaikan sembahyang di tempat selain daripada masjid. Apatah lagi beliau adalah pemimpin tertinggi bagi jamaah Islam yang tertua dan terbesar. Beliau terus mempersiapkan diri dan pergi menunaikan sembahyang di masjid berdekatan kediamannya.

Selepas menunaikan sembahyang, beliau sudah tidak mampu melakukan apa-apa lagi. Orang ramai menghantarkannya ke hospital dan beliau berada di sana selama lebih kurang dua minggu. Pada petang Khamis lalu, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Keesokan harinya, orang ramai berkumpul di Masjid Rabaah Adawiyyah di Madinat Nasr untuk memberikan penghormatan trerakhir sebelum beliau dikebumikan. Jalan-jalan sekitar menjadi sesak. Setelah jenazah disembahyangkan, orang ramai berarak menuju ke tanah perkuburan yang terletak 10 km dari masjid berkenaan.

Suasana sepi, sedih dan pilu menyelubungi perjalanan ke tanah perkuburan. Tidak ada sebarang laungan atau slogan-slogan seperti perhimpunan yang biasa di anjurkan oleh Ikhwan. Masing-masing hanya berdoa di dalam hati memohon kesejahteraan ke atas pemimpin yang pergi. Sebahagian daripada mereka mengangkat mashaf Al Quran sebagai lambang kepada syiar perjuangan mereka.

Perarakan yang dianggarkan disertai oleh 20,000 orang itu turut disertai oleh pemimpin-pemimpin politik termasuk ketua Parti Buruh (pembangkang), Ibrahim Shukri. Walau bagaimanapun Al Jazeerah melaporkan bahawa tidak kelihatan seorangpun pemimpin kerajaan dan pemimpin parti yang memerintah, Parti Negara.

Dari Allah kita datang, kepadanya jua kita kembali… Al Fatihah…

MURSYIDUL AM IKHWANUL MUSLIMIN

1. As Syahid Ustaz Hasan Al Banna (1928)

2. Syeikh Hasan Hudhaibi

3. Syeikh Umar Talmisani

4. Syeikh Hamid Abun Nasr

5. Syeikh Mustafa Masyhur (1996-2002)

6. Syeikh Makmun Hudhabi

7. Mahdi Akef

Perjalanan hidup ‘Asy-syahid Sayyid Qutb’

LATAR BELAKANG KELUARGA

Syed Qutb dilahirkan pada 9 Oktober 1906 di sebuah kampung di wilayah Assyut, Mesir.  Beliau mendapat didikan awal  di rumah daripada kedua ibu bapanya yang kuat beragama.  Sewaktu berusia 6 tahun, beliau dihantar ke sekolah rendah di kampungnya. Sewaktu berusia 7 tahun, Tambahkan Sebuah Gambar beliau mula menghafal al-Qur’an. Sewaktu usianya 10 tahun, beliau telah berjaya menghafalnya.

KEHIDUPAN AWAL DI QAHIRAH

Sewaktu berusia 15 tahun, Syed Qutb mulai berhijrah ke kota Qahirah. Di sini beliau telah memasuki Sekolah Perguruan Abdul Aziz. Setelah menamatkan pengajian, beliau segera bertugas mengajar di sebuah sekolah rendah. Walaupun hatinya memberontak untuk meneruskan pengajian, namun beliau terpaksa memendamkan hasrat hatinya kerana terpaksa menyara hidup keluarganya, lantaran bapanya telah meninggal dunia semasa Syed Qutb sedang menuntut di sekolah perguruan.

Pada tahun 1928, sewaktu berusia 22 tahun, Syed Qutb menyambung semula pengajiannya.  Beliau memasuki  sekolah persediaan untuk memasuki Darul Ulum, Universiti Qahirah.  Pada tahun 1930 beliau diterima memasuki Darul Ulum mengikuti pengajian Bahasa Arab dan Ulum al-Syari’ah.

Setelah menamatkan pengajian di Darul Ulum, beliau bertugas sebagai Nazir di Kementerian Pendidikan Mesir. Sebagai seorang pegawai kerajaan, beliau serius dalam menjalankan tugasnya. Beliau merancang berbagai pembaharuan di Kementerian Pendidikan.  Oleh itu beliau melakukan kajian demi kajian serta mengemukkaan cadangan tanpa menghiraukan risikonya. Selain daripada terlibat dalam bidang pendidikan, beliau juga berminat dengan politik dan  dunia penulisan.  Beberapa pandangan politiknya yang tidak selari dengan polisi kerajaan telah dimuatkan di dalam beberapa majalah. Ini menimbulkan kemarahan kepada Menteri Pelajaran, lantas mengarahkan agar Syed Qutb dihantar “berkursus” di Amerika Syarikat.

Sementara dalam bidang penulisan, pada peringkat awalnya beliau lebih berminat dengan bidang kesusasteraan sehingga menjadi salah seorang sasterawan Mesir yang terkenal.

Bagaimanapun, semenjak awal dekad 1940-an, satu era baru telah bermula dalam kehidupan Syed Qutb.  Era ini boleh dikatakan sebagai era kesedarannya kembali kepada Islam.  Namun pada peringkat ini beliau masih bergerak secara peribadi dalam usahanya menegakkan nilai-nilai Islam.  Di dalam penulisan, beliau mula menulis suatu rencana bersiri, kemudian dibukukan dengan tajuk “At-Taswir Fanni Fil Qur’an” pada tahun 1939.  Tulisan ini mengupas keindahan dan kesenian yang terdapat di dalam ayat-ayat al-Qur’an.  Pada tahun 1945 beliau menulis sebuah buku bertajuk  “Masyahidul Qiamah Fil Qur’an”.  Kedua-dua penulisan itu telah menemukan semula dirinya dengan didikan asas agama oleh kedua orang tuanya sewaktu kecil dahulu.

Seterusnya pada tahun 1948, Syed Qutb telah menghasilkan  sebuah buku kemasyarakatan Islam berjudul “Al-Adalah Al-Ijtima’iyyah Fil Islam”. Menerusi buku ini, Syed Qutb menyatakan dengan jelas bahawa keadilan masyarakat sejati hanya akan tercapai apabila melaksanakan sistem Islam.

SYED QUTB BERSAMA IKHWAN AL-MUSLIMIN

Peringkat terakhir daripada perjalanan hidup Syed Qutb bermula daripada tahun 1951, tahun penyertaannya ke dalam jama’ah Ikhwan al-Muslimin, sehingga ke tahun kesyahidannya tahun 1966.  Bagi Syed Qutb, tempoh itu sangat penting  baginya. Beliau sendiri menganggap tahun 1951 sebagai tahun kelahirannya semula.

Syed Qutb menyertai jamaah Ikhwan al-Muslimin, dua tahun sesudah kematian pengasasnya Imam al-Syahid Hassan al-Banna pada tahun 1949.  Mereka berdua tidak pernah bertemu walaupun dilahirkan di tahun yang sama 1906, dan dididik di tempat yang sama, di Darul Ulum.

Namun di antara mereka mempunyai kesatuan jiwa dan wahdatul-fikr. Bagi Hassan al-Banna setelah membaca buku “Al-’Adalah Al-Ijtima’iyyah Fil Islam”, karangan Syed Qutb, beliau menganggap pengarangnya (Syed Qutb ) adalah sebahagian daripada kita ( Al-Ikhwan ).  Seterusnya Imam al-Banna telah menyakinkan para pemuda Ikhwan bahawa “orang  ini”  (Syed Qutb) akan menyertai  al-Ikhwan tidak lama lagi.

Syed Qutb juga mempunyai perasaan yang sama terhadap Hassan al-Banna.  Malah kematian al-Banna sangat terasa kepadanya walaupun beliau belum pernah bersama dengan al-Banna.  Berita kematian al-Banna diterimanya dengan perasaan tragis sewaktu berada di sebuah hospital di Amerika Syarikat. Berbeza dengan sikap orang-orang Amerika yang bergembira dan bagaikan berpesta menyambut berita tersebut.

Sekembalinya  dari Amerika Syarikat,  Syed Qutb terus  mengkaji kehidupan al-Banna dan membaca seluruh risalah karangannya. Beliau akhir menemui suatu “kebenaran” yang wajib diperjuangkan. Seterusnya beliau berjanji dengan Allah untuk memikul amanah perjuangan Hassan al-Banna.

Oleh itu, pada tahun 1951 Syed Qutb dengan rasminya menyertai Ikhwan al-Muslimin. Pada tahun 1952, beliau dipilih menganggotai Maktab Irsyad dan dilantik mengetuai Lujnah Dakwah. Selepas peninggalan al-Banna, Ikhwan masih  bertenaga kerana memperolehi saf kepimpinan yang berwibawa untuk meneruskan kepimpinan.  Mereka adalah Hasan Hudhaibi sebagai Mursyidul Am,  Abdul Qadir Audah sebagai Setiausaha Agung dan  Syed Qutb sendiri yang mengetuai Lujnah Dakwah,  dianggap sebagai “ideolog” kepada Ikhwan al-Muslimin.

Sepanjang tempoh memimpin Lujnah Dakwah, Syed Qutb telah menghasilkan beberapa karya yang berasaskan dakwah dan pemikiran Aqidah Islam.  Antaranya ;
1- Hadha  al-Din.
2- Al-Mustaqbal li hadha al-Din.
2-  Khasa’is  al-Tasawwur al-Islamiyy.
3- Maalim fi al-Tariq.
5- Tafsir Fi Zilal al-Qur’an.

Mesej utama yang ditekankan oleh Syed Qutb di dalam penulisannya ini ialah konsep al-Tauhid dari sudut al-Uluhiyyah.  Menurutnya kemuncak kepada  Tauhid Uluhiyyah Allah swt. ialah hakNya dari sudut al-Hakimiyyah dan al-Tasyri’.  Menurutnya lagi bahawa ikrar Lailaha ilalLah adalah  pernyataan revolusi terhadap seluruh kedaulatan yang berkuasa di atas muka bumiNya. Maka seluruhnya itu mesti dikembalikan kepada hakNya.

Pada bulan Julai 1952, satu peristiwa bersejarah berlaku di Mesir iaitu “Revolusi Julai 1952?. Revolusi ini menggulingkan pemerintahan beraja Mesir, dijayakan oleh gerakan  “Dubbat  al-Ahrar” pimpinan Kolonel Jamal Abdul Naser dengan kerjasama Ikhwan al-Muslimin.

Sesudah revolusi, Syed Qutb telah ditawarkan dengan jawatan Menteri Pelajaran Mesir.  Syed Qutb terlebih dahulu meminta jaminan daripada pemimpin Majlis Revolusi yang diketuai oleh Jamal Abdul Naser dan Anwar Sadat, bahawa Kerajaan Revolusi  Mesir akan melaksanakan pemerintahan berdasarkan syariat Islam. Bagaimanapun mereka menolaknya untuk melaksanakan pemerintahan Islam.  Berdasarkan kepada penolakan tersebut, Syed Qutb merasakan perkara tidak baik akan berlaku.

Sejarah membuktikan apa yang dibimbangkan oleh Syed Qutb memang terjadi. Pada13 Januari 1954, Kerajaan Revolusi Mesir telah mengharamkan Ikhwan Muslimin dan para pimpinannya telah ditangkap di atas tuduhan gerakan Ikhwan sedang merancang hendak menggulingkan kerajaan revolusi, satu tuduhan yang tidak pernah dibuktikan di mahkamah.  Ekoran daripada itu tujuh orang pimpinan tertingginya dijatuhi hukuman mati, termasuk Hasan Hudhaibi, Abdul Qadir Audah dan Syeikh Mohamad Farghali,ketua sukarelawan Mujahidin Ikhwan al-Muslimin  di dalam Perang Suez 1948. Bagaimanapun  hukuman terhadap Hasan Hudhaibi dipinda kepada penjara seumur hidup dan Syed Qutb pula dihukum penjara lima belas tahun dengan kerja berat.

Pada tahun 1964, Syed Qutb telah dibebaskan di atas permintaan peribadi Abdul Salam Arif, Presiden Iraq.  Kerajaan Revolusi Mesir bagaimanapun tidak berpuas hati dengan pembebasan tersebut. Apabila Presiden Abdul Salam Arif terkorban dalam satu kemalangan udara, Syed Qutb ditangkap semula pada tahun berikutnya.  Tangkapan kedua ini dibuat berdasarkan tuduhan beliau merancang satu rampasan kuasa baru untuk menggulingkan kerajaan.

Pertuduhan ke atas Syed Qutb di Mahkamah Revolusi dibuat berdasarkan buku-bukunya terutama Maalim Fi al-Tariq. Ia berdasarkan kenyataannya mengenai seruan revolusi terhadap seluruh kedaulatan yang tidak berdasarkan Syari’at Allah.

Bersama Syed Qutb kali ini, turut juga ditahan ialah seluruh anggota keluarganya.  Syed Qutb seorang yang bermaruah.  Sebelum hukuman gantung dilaksanakan ke atasnya, Presiden Naser menghantar utusan menemui Syed Qutb.  Melalui utusan itu Presiden Naser meminta agar Syed Qutb menulis  kenyataan meminta ampun daripadanya agar Syed Qutb dibebaskan. Namun Syed Qutb dengan tegas menjawab; “Telunjuk yang bersyahadah setiap kali bersolat bahawa Tiada Ilah yang disembah dengan sesungguhnya melainkan Allah dan Muhamad Rasulullah, tidak akan aku menulis satu perkataan yang hina. Jika aku dipenjara kerana benar aku redha. Jika aku dipenjara secara batil, aku tidak akan menuntut rahmat daripada kebatilan”.

Pada pagi Isnin, 29 Ogos 1966, Syed Qutb telah digantung sampai mati bersama-sama sahabat seperjuangannya, Mohamad Yusuf Hawwash dan Abdul Fatah Ismail. Berita hukuman mati yang dilaksanakan ke atas Syed Qutb telah mengejutkan Dunia Islam.  Kebanyakan tokoh dan pimpinan umat Islam sedih dan kecewa dengan peristiwa tersebut(1).

Mengenal Para Mursyid Am Ikhwanul Muslimin: 1. Hasan Al-Banna


Hasan Al-Banna; Muassis dan Mursyid pertama Ikhwanul MusliminHasan Al-Banna; Muassis dan Mursyid pertama Ikhwanul Muslimin

Penerjemah: Abu Ahmad

Allah SWT berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)“. (Al-Ahzab:23)

Sejarah telah mencatat para generasi dakwah Islam di era modern Iakan banyak pahlawan, dan hal tersebut telah terjadi, dan akan terus terjadi dari mereka yang memiliki sikap dan prinsip dengan tetap berpegang teguh pada manhaj Islam yang benar dan lurus, jika boleh dikatakan: bahwa mereka mampu mencapi puncak hingga peringkat sebagai pengemban dan pembawa manhaj ilahi dari generasi pertama umat Islam, dan tugas dari gerakan Islam adalah mengenang para pahlawannya dan mengapresiasi para syuhada di jalannya; sehingga kelak mereka menjadi panutan yang dapat memberikan pencerahan dan petunjuk bagi generasi dakwah setelahnya, dan setiap orang yang mengambil jalan ini.

Siapakah Hasan Al-Banna?

Beliau adalah Hassan Ahmad Abdul Rahman al-Banna, lahir di kota Al-Mahmudiya, di bagian Delta Nil Provinsi Buhaira, Mesir, pada hari Ahad, tanggal 25 Sya’ban tahun 1324, bertepatan dengan tanggal 14 Oktober tahun 1906. Beliau termasuk dalam keluarga pedesaan yang sederhana dari kebanaykan bangsa Mesir lainnya sebagai petani di sebuah desa Delta yang disebut dengan desa “Syamsyirah” [dekat dengan pantai kota Rasyid berhadapan dengan kota Idvina, bagian dari kota Fawah, Propinsi Al-Buhaira].

Kakeknya bernama Abdul Rahman, beliau adalah seorang petani dari keluagra sederhana, namun orang tua Hasan Al-Banna, Syeikh Ahmad tumbuh – sebagai anak bungsu- jauh dari aktivitas bertani; karena keinginan dari ibunya, sehingga beliau ikut dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an dan mempelajari hukum-hukum tajwid Al-Quran, dan kemudian belajar hukum syariah di Masjid Ibrahim Pasha di Alexandria, dan disaat menempuh pendidikan, beliau ikut bekerja di sebuah toko terbesar bagian refarasi jam di Alexandria, sehingga setelah itu beliau memiliki keahlian dalam memperbaiki jam dan berdagang, dan dari sinilah beliau terkenal dengan panggilan “As-sa’ati”

Selain itu, Orang tua Al-Banna juga memiliki keahlian dan menjadi bagian dari ulama hadits karena beliau pandai di bidang tersebut, sebagaimana beliau banyak melakukan aktivitas dalam mempelajari dan mengajar sunnah nabawiyah terutama kitab yang terkenal “al-fathu Robbani fi tartiibi musnad imam Ahmad bin Hambal As-Syaibani”, dan dalam kehidupan seperti itulah tumbuh “Hassan al-Banna” mencetak banyak karakter darinya.

Awal Perjalanan

Hassan al-Banna memulai pendidikannya di sekolah tahfizhul Qur’an di Al-Mahmudiyah, dan mampu mentransfer ilmu dari banyak penulis sehingaa orang tuanya mengirim beliau kepada para penulis di dekat kota Al-Mahmudiyah. Namun waktu yang beliau tempuh di tempat para penulis sangat padat sehingga tidak mampu menyempurnakan hafalan Al-Qur’an; oleh karena terikat dengan peraturan para penulis, dan pada akhirnya beliau tidak mampu meneruskannya, lalu melanjutkan pendidikannya di sekolah tingkat SMP, meskipun ada pertentangan dari ayahnya, karena beliau sangat antusias terhadap dirinya untuk bisa menjadi penghafal Al-Qur’an, dan tidak setuju anaknya masuk sekolah SMP kecuali setelah bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di rumahnya.

Setelah menyelesaikan sekolah SMP beliau masuk ke sekolah “Al-Mu’allimin Al-Awwaliyah” di Damanhour, dan pada tahun 1923 masuk kuliah di Fakultas Dar El-Ulum di Kairo dan lulus pada tahun 1927, dan selain itu, beliau juga mampu meraih lebih ilmu-lainnya dari ilmu-ilmu yang diterima pada saat kuliah, terutama pada kurikulum pendidikan yang diberikan saat itu; seperti pelajaran ilmu al-hayah, sistem pemerintahan, ekonomi politik, sebagaimana beliau menerima pelajaran tentang bahasa, sastra, hukum, geografi dan sejarah, sehingga dengan itu semua, membuat beliua matang dalam berbagai ilmu pengetahuan.

Beliau memiliki perpustakaan yang besar dan luas dirumahnya, di dalamnya terdapat ribuan buku, yang berisi tentang buku-buku yang terkait dengan tema yang tersebut diatas, dan ditambah dengan adanya empat belas jenis majalah dari majalah mingguan yang diterbitkan di Mesir seperti majalah al-muqtatof, majalah al-fath, majalah Al-Manar dan lain-lainnya, dan hingga saat ini perpustakaan beliau masih ada di bawah pengawasan anaknya ustadz ” “Saif al-Islam”.

Al-Banna menjalankan hidupnya selama 19 tahun sebagai guru sekolah dasar di Ismailia, dan kemudian di Kairo, dan ketika beliau mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai guru pada tahun 1946 beliau telah mendapat level kelima untuk menjadi PNS, setelah itu beliau bekerja di surat kabar harian “Ikhwanul Muslimin”, dan kemudian beliau menerbitkan majalah bulanan sendiri yang bernama “As-Syihab” yang di mulai pada tahun 1947; hal tersebut dilakukan agar dirinya dapat mandiri dan sebagai sumber mata pencaharian, namun akhirnya majalah tersebut dibredel oleh karena dibubarkannya jamaah ikhwanul muslimin pada tanggal 8 Desember 1948.

Pengaruh dan dampak

Syeikh Hassan al-Banna, menerima banyak pengaruh dari beberapa ulama besar dan para guru, termasuk ayahnya sendiri, Syeikh Ahmed dan Syeikh Mohammed Zahran – pemilik majalah Al-Is’ad dan pemilik sekolah Ar-Rasyad, yang mana Hasan Al-Banna terdaftar di sekolah saat beliau menetap beberapa tahun di Mahmudiyah – begitupun Syeikh Tantawi Jauhari, penyusun kitab tafsir Al-Qur’an “Al-Jawahir”, dan beliau juga menjadi pemimpin redaksi koran yang diterbitkan pertama kali oleh Ikhwanul Muslimin pada tahun 1933, setelah lulus dari Dar el-ulum tahun 1927, Hasan Al-Banna menjadi guru pada salah satu sekolah dasar di kota Ismailiyah, dan berikutnya tahun 1928 mendirikan jamaah Ikhwanul Muslimin, tapi sebelum pendiriannya beliau telah banyak terlibat dalam sejumlah asosiasi dan kelompok agama, seperti “Jam’iyah Al-Adab Al-Akhlaqiyah”, dan “Jam’iyah Man’u Al-Muharramat” di Mahmudiya, dan “At-Tariqah Al-Hashofiyah” sebuah aliran tasawuf di Damanhour, sebagaimana beliau juga ikut berpartisipasi dalam pendirian jamaah Syubbanul Muslimin pada tahun 1927 dan beliau merupakan salah satu anggotanya. Yaitu, Setelah jamaah Ikhwanul Muslimin yang didirikannya telah tumbuh, berkembang dan tersebar di berbagai segmen masyarakat dan kota, bahkan pada akhir tahun empatpuluhan ikhwanul Muslimin telah menjadi kekuatan organisasi sosial-politik yang terstruktur di Mesir, juga telah memiliki cabang yang banyak yang tersebar di berbagai negara-negara Arab dan Islam.

Imam Al-Banna selalu menegaskna bahwa jamaah yang diririkannya bukan merupakan partai politik, tetapi merupakan kesatuan ide dari berbagai nilai-nilai perbaikan, dan berusaha untuk kembali kepada Islam yang benar dan bersih dan menjadikannya sebagai manhaj yang komprehensif untuk kehidupan.

Adapun manhaj perbaikan yang beliau lakukan adalah dengan cara “Tarbiyah” dan “progresif ” dalam melakukan perubahan yang diinginkan, dan inti dari manhaj yang diinginkan itu adalah membentuk “individu Muslim” lalu “Keluarga Islam”, “komunitas Muslim”, lalu “Pemerintahan Islam”, “Negara, dan khilafah Islam dan akhirnya mencapai pada “ustadziyatul alam” .

Imam Al-Banna memimpin jamaah Ikhwanul Muslimin selama dua periode [1928-1949], dan dalam kepemimpinannya banyak berhadapan dengan peperangan politik dengan pihak lain, khususnya partai Al-Wafd dan partai Al-Saadi. Adapun sebagian besar aktivitas dari Al-Ikhwan terfokus pada permasalahan di lapangan nasional Mesir yang terpuruk setelah pecah Perang Dunia II, dan pada saat itu beliau mengajak Mesir untuk keluar dari sterling blok sehingga dapat memberi tekanan pada Inggris untuk menanggapi permintaan nasional Mesir. Dalam konteks ini, Ikhwanul Muslimin mengadakan konferensi-konferensi, dan melakukan demonstrasi untuk menuntut hak-hak negara, juga memiliki serangkaian politik assassinations terhadap tentara dan pasukan Inggris, terutama di Terusan Suez.

Dan Al-Banna juga mengutamakan perhatiannya secara khusus terhadap isu Palestina, dan menganggapnya sebagai “Persoalan seluruh dunia Islam” dan beliau selalu menegaskan bahwa “Inggris dan orang-orang Yahudi tidak akan memahami kecuali hanya satu bahasa, yaitu bahasa revolusi, kekuatan dan darah”, beliau mengakui fakta adanya aliansi Barat Zionis terhadap Islam. Beliau juga mengajak untuk melakukan penolakan terhadap konsensus pemisahan dan pembagian negeri Palestina yang dikeluarkan oleh PBB tahun 1947, dan mengajak kepada seluruh umat Islam secara umum – dan Ikhwanul Muslimin secara khusus – untuk melakukan jihad di tanah Palestina demi mempertahankan tanah Arab dan Muslim, beliau berkata: “Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin akan mengorbankan jiwa dan harta mereka untuk mempertahankan setiap jengkal dari bumi Palestina Islam dan Arab sehingga Allah mewarisi bumi ini dan orang-orang yang bersamanya “. Dan akhirnya pada tanggal 6 Mei 1948 Lembaga Pendiri Ikhwanul Muslimin mengeluarkan keputusan yang menegaskan jihad suci melawan Yahudi sang agresor, untuk itu Al-Banna mengirim brigade Mujahidin dari Ikhwanul Muslimin ke Palestina dalam perang tahun 1948. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah Mesir melikuidasi jamaah Ikhwanul Muslimin pada bulan Desember tahun 1948; sehingga, menyebabkan terjadinya bentrokan antara Ikhwanul Muslimin dan Pemerintah An-Nakrasyi.

Al-Banna memiliki pendapat yang tepat dan wawasan yang luas terhadap qadhiyah an-nahdhah (masalah kebangkitan) yang mampu membuat sibuk umat Islam sejak dua abad sebelumnya dan hingga sekarang masih didengungkan. Beliau menghubungkannya dengan masalah kemerdekaan dari kolonialisme dan ketergantungan pada Eropa dari satu sisi, dan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan yang harus dicapai oleh umat Muslim pada sisi yang lain, dan beliau mengatakan: “Kita tidak akan mampu melakukan perbaikan dan kita tidak bisa menerapkan konsep perbaikan secara internal selama kita belum merdeka dari intervensi dan campur tangan asing” Beliau juga mengatakan: “Tidak ada kebangkitan tanpa ilmu pengetahuan dan apa yang diraih oleh orang kafir -dalam menjajah- adalah karena dengan ilmu “, beliau melihat bahwa ketergantungan umat Islam pada Eropa terhadap tradisi dan kebiasaan-kebiasaannya dapat menghalangi kemerdekaan dan kebangkitan mereka, beliau berkata: “Bukankah sebuah paradoks yang aneh, kita meninggikan suara menuntut untuk merdeka dari Eropa dan melakukan protes keras terhadap segala tindak tanduknya, sementara di pihak lain kita meng agungkan tradisi-tradisinya dan terbiasa dengan adat-adatnya, dan bahkan kita lebih memilih produk-produknya?

Sebagaimana beliau juga melihat bahwa persoalan perempuan merupakan salah satu permasalahan sosial paling penting; karena itu, karena itu -sejak awal didirikannya Ikhwanul Muslimin- beliau banyak memberikan perhatian terhadap permasalahan kaum perempuan, beliau membuat bagian khusus yang disebut dengan “Akhwat Muslimat”. Dan beliau selalu menekankan bahwa Islam telah memberikan kepada perempuan hak-hak pribadi, sipil dan politik, dan pada saat yang bersamaan, Islam juga meletakkan kaidah-kaidah yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan dalam penerapan hak-hak tersebut

Namun Imam Al-Banna tidak hanya menyeru untuk mendirikan sebuah sistem pemerintahan keagamaan teokratis dengan pengertian yang dikenal oleh Eropa pada abad pertengahan, namun beliau menyeru untuk menerapkan hukum Islam berdasarkan aturan dari syura, kebebasan, keadilan dan kesetaraan.

Dan beliau menerima dengan lapang bentuk konstitusional undang-undang parlemen, dan menganggap lebih dekat sistem pemerintahan di seluruh dunia terhadap Islam, dan beliau melihat bahwa jika formula tersebut diterapkan, maka dipastikan akan mampu mewujudkan tiga prinsip yang melandasi aturan Islam; yaitu “tanggungjawab pemimpin, kesatuan umat dan penghargaan terhadap kehendaknya”.

Terbunuhnya Sang Imam

lokasi: Kairo, di distrik Al-Himliyah. Waktu: Pertengahan malam tanggal 12 Februari 1949. Kronologi: terdapat beberapa kendaraan polisi melaju di tengah keheningan malam, hingga mencapai pada salah satu jalan di distrik Al-Hilmiyah, Kairo, mereka bertugas menghentikan kendaraan yang melaju di jalan tersebut, beberapa tentara memblokade jalan dengan senjata lengkap,dan penjagaan diperketat terutama di sebuah rumah sederhana di yang ada di jalan tersebut, lalu sebuah mobil polisi melaju menuju rumah tersebut, satu barisan tentara memindahkan mayat dari mobil ke rumah tersebut dengan cepat, lalu mengetuk pintu yang ada di atasnya, seorang Syeikh berumur sembilan puluhan tahun membuka, lalu beberapa tentara masuk ke rumah tersebut sebelum mereka memasukkan tubuh yang sudah mati tersebut untuk mengkonfirmasi tidak ada orang lain di rumah tersebut, ultimatum yang keras disampaikan kepda syekh tersebut; tidak boleh ada suara, tidak boleh ada kegaduhan, dan bahkan tidak boleh ada seorangpun yang boleh mengurus mayat tersebut, cukup anda dan keluarta yang ada di rumah, dan tepat jam sembilan esok pagi beliau harus dimakamkan.

Adapun Syeikh tersebut adalah orang tua almarhum, meskipun ia terketut, sekalipun ia sudah tua, dirinya mampu memakamkan anaknya sendirian, beliau membersihkan darah anaknya yang terkena peluru dan mendarat di sekujur tubuhnya.

Pada pagi harinya, petugas datang tepat waktu, mereka berkata: bawa sini anakmu untuk segera dikubur. Maka syeikh yang sudah berumur 90 tahun tersebut berseloroh: bagaimana saya membawanya? Seharusnya sebagian prajurit ikut membawanya! Namun para prajurit menolak, dan responnya adalah hendaknya orang-orang rumah yang membawanya. Saat itu almarhum meninggalkan beberapa anak perempuan dan seorang anak laki-laki yang masih bayi.

Akhirnya tubuh yang sudah menjadi mayat dibawa oleh istrinya dan anak perempuannya dan dibantu oleh ayahnya, dan bagi siapa yang berani ikut membantunya maka akan ditangkap dan di penjara, akhirnya jenazah sampai ke masjid untuk di shalatkan, tidak ada yang ikut menyolatkannya kecuali ayahnya dan dibelakangnya anaknya (istri sang imam) dan anak-anak perempuan dari keturunannya, dan mereka juga yang turun ke kubur, lalu kembali ke rumah dengan penjagaan yang super ketat, demikian kronologi pembunuhan dan prosesi pemakaman As-Syahid Imam “Hassan al-Banna”, setelah itu banyak tetangganya yang ditangkap, tidak ada alasan lain kecuali hanya karena mengungkapkan takziah (belasungkawa) kepada keluarga yang ditinggal, dan blokade terus berlanjut tidak hanya di rumah karena khawatir banyak yang berdatangan untuk takziya, namun juga di sekitar kuburan sang imam, karena takut ada yang berani mengeluarkan mayatnya dan mengekspos kejahatan yang telah terjadi, bahkan banyak dari pihak kepolisian disebar di beberapa masjid; untuk segera ditutup kembali setelah ibadah shalat ditunaikan, karena takut ada seseorang yang berani menshalatkannya.

Di sisi lain seorang raja negara tersebut menunda dalam merayakan ulang tahun ke 11 Februari dari 12 Februari; untuk ikut merayakan bersama orang merayakan kematian sang imam, dan salah seorang intelektual menceritakan bahwa dirinya menyaksikan salah satu perayaan di sebuah hotel di Amerika Serikat, dan ketika diceritakan alasan perayaan ini, ia dapat mengetahui bahwa perayaan tersebut dilakukan untuk mengungkapkan kegembiraan karena kematian Imam As-Syahid Hasan Al-Banna. Jika kebenaran ada pada musuh, maka sesungguhnya pusat penelitian di Prancis dan Amerika ikut berpartisipasi dalam peletakan seratus orang yang paling terpengaruh di dunia pada abad kedua puluh, dua dari dunia Arab adalah: Imam As-Syahid “Hassan al-Banna”, dan yang lainnya adalah Gamal Abdul Nasser.

Buku-buku karangan imam Hasan Al-Banna

Tidak ada yang dimiliki oleh Hassan al-Banna dari literatur buku atau karangan-karangannya kecuali berupa risalah, baik kumpulan dan cetakan dengan judul buku “Majmuah Rasail imam Hasan Al-Banna” sebagai referensi utama dalam memahami pemikiran dan manhaj Ikhwanul Muslimin secara umum. Beliau juga memiliki buku mudzakarah yang dicetak beberapa kali dengan judul “Mudzakirah da’wah wa da’iyah”, selain itu beliau juga memiliki majalah dan riset-riset kecil dalam jumlah yang besar, seluruhnya tersebar dalam koran-koran dan majalah Ikhwanul Muslimin yang dimuat pada tahun tiga puluh dan empatpuluhan tahun yang lalu.

Sumber : http://www.al-ikhwan.net

Belajar Dari Al Banna

Belajar dari pengalaman orang lain adalah sesuatu yang diperintahkan Allah swt. Terlebih lagi belajar dari pengalaman berda’wah.

Ada satu ayat dalam surat Al An’am yang berisi perintah agar Rasulullah saw belajar dari pengalaman para nabi sebelumnya. Istilah Al Qur’annya: fabihudahumuqtadih (dengan petunjuk mereka, maka berqudwahlah). (QS Al An’am [6]: 90). Hal ini setelah Allah swt menyebutkan banyak sekali nama-nama para nabi dan rasul (mulai ayat 84, bahkan sebelumnya, saat bercerita tentang nabi Ibrahim as).

Al Qur’an juga menceritakan para da’i lain selain para nabi dan rasul. Ada cerita Luqman Al Hakim, ada cerita raja Dzul Qarnain, dan sebagainya. Bahkan juga ada cerita tentang rojulun (seorang lelaki), siapa namanya? Tidak disebutkan Allah swt, apa posisinya? Juga tidak dijelaskan. Hal ini semakin memperkuat kepada kita urgensi belajar dari pengalaman orang lain dalam berda’wah.

Di awal abad dua puluh yang lalu, di negeri Mesir, muncul seorang da’i yang sangat terkenal sampai sekarang ini, termasuk di Indonesia. Terlebih lagi setelah terbitnya buku Memoar sang da’i ini. Dia bernama Hasan. Marganya bernama AL BANNA, yang berarti sang pembangun. Karenanya dia terkenal dengan panggilan Hasan AL BANNA, sebuah nama yang sangat indah, yang tentunya bukan sebuah kebetulan, karena aqidah Islam melarang kita untuk mempercayai kebetulan.

Kenapa kita layak belajar dari pengalaman Hasan Al Banna?  Berikut ini adalah saduran dari kata pengantar Syekh Abul Hasan An-Nadawi rahimahullah terhadap buku Memoar Hasan Al Banna.

1. Hasan Al Banna adalah seorang figur da’i yang mendapatkan taufiq dari Allah swt, dan pemimpin ishlah (reformasi ummat) yang mujahid, genius, cerdas, berbakat, dan murabbi sekaligus. “… keberadaan mereka-mereka yang mushlih (melakukan ishlah), mujahid, ‘abqari (jenius), nubugh (cerdas), mauhub (berbakat), muayyad (mendapatkan dukungan dari Allah), dan murabbi (pendidik), serta para pemimpin ishlah yang muncul dan tampil dalam situasi dan kondisi yang tidak mendukung, iklim yang tidak pas, bahkan zaman kegelapan yang sangat pekat, ditengah-tengah lingkungan yang membunuh dan mematikan, di tengah-tengah masyarakat yang terkena kelumpuhan berpikir, ruhani yang kosong, ‘athifah (empati+simpati+emosi) yang dingin, kemauan yang lemah, tekad yang lentur, semangat yang rapuh, badan yang loyo, kehidupan yang labil, akhlaq yang rusak, cenderung enak-enakan, tunduk kepada kekuatan dan keterputus-asaan untuk melakukan perbaikan”. (hal: 4 mudzakkirat da’wah wad-da’iyah).

2. Hasan Al Banna adalah figur seorang da’i yang memiliki banyak keistimewaan. “… siapa saja yang mengenal hal ini dari dekat, bukan dari kitab, dan hidup nempel dengannya, maka dia akan mengetahui kelebihan figur yang muncul ke alam nyata ini, dan mengejutkan Mesir, lalu dunia Arab, lalu dunia Islam seluruhnya dengan da’wahnya, tarbiyahnya, jihadnya, kekuatannya yang tiada duanya, yang mana Allah swt telah menghimpunkan dalam kekuatan ini berbagai bakat, dan potensi yang sekilas tampak kontradiksi di mata para psikolog dan ahli etika, dan juga di mata para sejarawan dan kritikus, yaitu:

a.Akal yang besar nan cemerlang.
b.Pemahaman yang bersinar dan luas.
c.’Athifah yang kuat nan menggelora.
d.Hati yang membawa berkah nan melimpah.
e.Ruhani yang segar nan bersinar.
f.Lisan yang fasih dan membawa kesan mendalam.
g.Zuhud dan qana’ah dalam kehidupan pribadi.
h.Penuh semangat dan bercita-cita jauh ke depan (visioner), yang tidak kenal lesu dalam rangka mempublikasikan da’wah dan prinsip.
i.Jiwa yang cinta maju dan ambisius dalam kebaikan.
j.Himmah (semangat) yang tinggi dan meletup-letup.
k.Pandangan yang tajam dan jauh.
l.Tidak mengenal tawar menawar dan ghirah terhadap da’wah dan
m.Tawadhu’ dalam hal-hal yang khusus dengan dirinya”. (lihat hal: 7 dari mudzakkirat da’wah wad-da’iyah).

3. Hasan Al Banna adalah seorang figur da’i yang –sesuai dengan istilah dia sendiri- ‘asyat bihi wa ‘asya biha (da’wah itu hidup karena dia dan dia tidak bisa hidup tanpa da’wah). “kejeniusan sang da’i ini tampak jelas dalam dua hal yang sangat khas, yang tidak banyak dimiliki oleh para da’i, murabbi, pemimpin dan reformer yang lain kecuali sangat langka, yaitu:

a.Kecintaannya kepada da’wah, qana’ah (kepuasan)-nya, mati-matiannya dan habis-habisannya untuk da’wah dengan segala bakat, potensi dan tulisan-tulisan yang dimilikinya, inilah syarat asasi dan karakter utama para da’i dan pemimpin yang melalui tangannya Allah swt mengalirkan banyak kebaikan.

b.Pengaruhnya yang mendalam dalam jiwa para sahabatnya dan murid-muridnya serta keberhasilannya yang sangat memukau dalam tarbiyah dan memproduk, dia benar-benar adalah seorang pembangun generasi, murabbi rakyat dan pemilik madrasah ilmiyah fikriyah khuluqiyyah. Hal ini telah mempengaruhi kecenderungan semua orang yang kontak dengannya, baik dari kalangan pelajar atau aktifis, dalam cita rasa mereka, metodologi berfikir mereka, gaya penjelasan mereka, bahasa mereka dan pidato-pidato mereka. Pengaruh ini masih tetap ada meskipun berbagai peristiwa dan tahun telah berlalu, dan terus menerus menjadi lambang dan ciri yang bisa dijadikan sebagai alat pengenal mereka, di manapun dan kapanpun mereka berada”. (hal: 7-8 mudzakkirat da’wah wad-da’iyah).

4.Hasan Al Banna adalah seorang figur da’i yang mempunyai sumber-sumber kekuatan dan kebesaran diri yang sangat unik. “dalam bukunya ini (memoar) seorang pembaca akan menemukan sumber-sumber kekuatan dan keagungan dirinya serta sebab-sebab keberhasilan dan daya tariknya, yaitu:

a.Salamatul fitrah (fitrah yang selamat).
b.Shafa-un-nafs (jiwa yang bening).
c.Isyraqur-ruh (ruhani yang bersinar).
d.Al ghiratu ‘alad-diin (ghhirah terhadap agama).
e.At-taharruq lil Islam (terasa terbakar dirinya demi membela Islam).
f.At-tawajju’ min istisyra-il fasad (merasa sakit melihat merajalelanya kerusakan).
g.Al ittishal al watsiq billah (menjalin hubungan yang kuat dengan Allah swt).
h.Al hirshu ‘alal ibadah wa shahnu baththariyatul qalbi bidz-dzikri wad-du’a-i wal istighfari wal khulwati bil as-har (semangat beribadah dan mengeces baterei hatinya dengan dzikir, berdo’a, beristighfar dan menyendiri untuk beribadah di sepertiga malam terkahir).
i.Al ittishal al mubasyir bisy-sya’b wa ‘ammatin-naas fi wamadhi’i ijtima’ihim wamarakizi syughlihim wa hiwayatihim (kontak langsung dengan masyarakat dan umumnya manusia di tempat berkumpul mereka, pusat-pusat kesibukan mereka dan tempat-tempat kesenangan mereka).
j.At-tadarruj wa muro’atul hikmah fid-da’wah wat-tarbiyyah (bertahap dan memperhatikan hikmah dalam da’wah dan tarbiyah).
k.An-nasyath ad-da’im wal ‘amal ad-da-ib (aktifitas yang kontinyu dan kerja yang terus menerus)”. (hal: 8 – 9).

Marilah kita tempa diri kita dengan terus mendekatkan diri kita kepada Allah, dengan banyak belajar dan berlatih, agar sedikit banyak kita bisa memiliki sifat-sifat ini, amiiien.

Sumber: keadilan.or.id

Image by FlamingText.com
Image by FlamingText.com

ARSIP

TOP RATE

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: