TOKOH : Mohammad Moursi

Mohamed_Morsi_croppedMohamed Mohamed Morsi Isa al-Ayyat (Arab Mesir: محمد محمد مرسى عيسى العياط, IPA: [mæˈħæmmæd ˈmoɾsi ˈʕiːsæ (ʔe)l.ʕɑjˈjɑːtˤ], lahir 20 Agustus 1951) adalah Presiden ke-5 Mesir yang menjabat sejak 30 Juni 2012.[1][2]

Morsi menjadi Anggota Parlemen di Majelis Rakyat Mesir selama periode 2000-2005 dan seorang tokoh terkemuka di Ikhwanul Muslimin. Sejak 30 April 2011, dia menjabat Ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sebuah partai politik yang didirikan oleh Ikhwanul Muslimin setelah Revolusi Mesir 2011. Ia maju sebagai calon presiden dari FJP pada pemilu presiden Mei-Juni 2012.

Pada tanggal 24 Juni 2012, Komisi Pemilihan Umum Mesir mengumumkan bahwa Mursi memenangkan Pemilu Presiden dengan mengalahkan Ahmed Shafik, Perdana Menteri terakhir di bawah kekuasaan Hosni Mubarak. Komisi Pemilihan menyatakan Morsi memperoleh 51,7 persen suara, sedang Shafiq mendapatkan 48,3 persen.[3] Morsi kemudian mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua FJP setelah kemenangan yang diraihnya.[4]

Kehidupan Awal dan Pendidikan

Morsi lahir di Al-Sharqia, Mesir Utara. Ia meraih gelar sarjana dan magister di bidang teknik dari Universitas Kairo masing-masing pada tahun 1975 dan 1978. Kemudian, dia mendapatkan gelar PhD bidang teknik dari University of Southern California, Amerika Serikat pada 1982. Pada 19821985, dia menjadi asisten profesor di California State University at Northridge. Pada tahun 1985, ia kembali ke Mesir untuk mengajar di Universitas Zagazig.[5]

Karier Politik

Mursi menjadi anggota parlemen Mesir mewakili Zagazig selama periode 20002005. Ia terpilih sebagai calon independen, karena secara teknis Ikhwanul Muslimin dilarang mencalonkan kandidat presiden ketika Hosni Mubarak menjabat. Morsi menjadi anggota Kantor Bimbingan Ikhwanul Muslimin hingga mendirikan Partai Kebebasan dan Keadilan pada tahun 2011, usai Mubarak jatuh.

Setelah Khairat El-Shater didiskualifikasi dari pemilihan presiden 2012, Mursi, yang awalnya dicalonkan sebagai calon cadangan, muncul sebagai calon baru Ikhwanul Muslimin. Kampanyenya dibantu oleh seorang ulama terkenal Mesir, Safwat Hegazi pada unjuk rasa di El-Mahalla El-Kubra, pusat protes buruh di Mesir.

Setelah putaran pertama pemilihan presiden pertama di Mesir pasca-Mubarak, di mana jajak pendapat menunjukkan 25,5% suara rakyat untuk Morsi, dia secara resmi diumumkan sebagai presiden pada 24 Juni 2012 setelah pemungutan suara putaran berikutnya.

Pendukung Morsi merayakan kemenangan tersebut di Lapangan Tahrir, dan ledakan amarah pihak yang kalah meledak saat Otoritas Pemilihan Umum Mesir mengumumkan hasilnya. Mursi unggul tipis atas mantan Perdana Menteri Mesir era Mubarak, Ahmed Shafik, dan dikenal dengan karakter Islami-nya.

Pada tanggal 24 Juni 2012, Morsi diumumkan sebagai pemenang pemilu dengan 51,73% suara. Segera setelah itu, ia mengundurkan diri dari jabatan presiden Ikhwanul Muslimin.

Demonstrasi Mesir 2013 dan deklarasi pemberhentian

Pada tanggal 30 Juni 2013, demonstrasi besar berlangsung di penjuru Mesir menuntun pengunduran diri Presiden Morsi[6]. Bersamaan dengan demo anti-Morsi, para pendukungnya mengadakan demonstrasi tandingan di lokasi lain di Kairo.[7]

Pada 1 Juli 2013, Angkatan Bersenjata Mesir menerbitkan ultimatum 48 jam, memberi tenggat waktu hingga 3 Juli bagi partai untuk memenuhi tuntutan rakyat Mesir. Militer Mesir juga mengancam akan turut campur bila perselisihan tersebut tidak diselesaikan.[8] Empat menteri juga turut mengundurkan diri di hari yang sama, termasuk Menteri Pariwisata Hisham Zazou]], Menteri Komunikasi dan IT Atef Helmi, Menteri Negara Urusan Hukum dan Parlemen Hatem Bagato dan Menteri Negara Lingkungan Hidup Khaled Abdel Aal[9], menyisakan pemerintahan dari Ikhwanul Muslimin saja.

Pada 2 Juli 2013, Presiden Morsi secara terbuka menolak ultimatum 48 jam dan bersumpah untuk menjalankan rencananya sendiri untuk rekonsiliasi nasional dan menyelesaikan krisis politik.[10]

Pada 3 Jul 2013 pada 21:00 (GMT+2), Abdul Fattah el-Sisi, Kolonel Jenderal Angkatan Bersenjata Mesir, mengumumkan announced a road map rencana mendatang Mesir, menyatakan bahwa Morsi telah dilengserkan dan mengangkat kepala Mahkamah Konstitusi sebagai pemegang jabatan sementara Presiden Mesir.[11]

Kehidupan pribadi

Morsi menikah dengan Naglaa Ali Mahmoud. Istrinya pernah menyatakan bahwa dia tidak ingin disebut sebagai “Ibu Negara” melainkan “Pelayan Rakyat [masyarakat Mesir]”. [34] [12]

Presiden Morsi memiliki lima anak: Ahmed Mohammed Morsi yang adalah seorang dokter di Arab Saudi, Shaima, lulusan Universitas Zagazig, Osama, pengacara, Omar, dan Abdullah yang masih seorang siswa SMA. Presiden Morsi juga memiliki tiga cucu.

Catatan kaki

  1. Muslim Brotherhood’s candidate and first president after Mobarak
  2.  “Egypt court: Military cannot arrest civilians”. The Examiner. 27 June 2012.
  3.  “Muslim Brotherhood candidate Morsi wins Egyptian presidential election”. Fox News.com. Diakses 24 June 2012.
  4. ^ “شورى الإخوان” يسمي مرسي رئيسًا لـ”الحرية والعدالة”. إخوان اون لاينApril وصل لهذا المسار في 1 مايو201
  5. “Interview with Mohamed Morsi”. Al-Jazeera. 29 January 2012.
  6.  “Egypt crisis: Mass protests over Morsi grip cities”. BBC News. 1 July 2013.
  7. Umar Farooq (30 June 2013). “Seeking New Leadership, Millions of Egyptians Take to the Streets”. The Atlantic.
  8.  Abdelaziz, Salma (1 July 2013). “Egyptian military issues warning over protests”. CNN. Diakses 1 July 2013.
  9. Patrick Werr. “Four Egyptian ministers resign after protests: cabinet official”. Reuters. Diakses 1 July 2013.
  10.  “Egypt crisis: President Morsi rejects army ultimatum”. BBC News. Diakses 2 July 2013.
  11. http://edition.cnn.com/2013/07/03/world/meast/egypt-protests/index.html?hpt=hp_t1
  12. Aya Batrawy (28 June 2012). “Morsi’s wife prefers ‘first servant’ to first lady”. The Globe and Mail. Diakses 2 July 2012.
  13.  “Newsmaker: Egypt’s Morsy goes from prisoner to president”. Reuters. 24 June 2012.

Cermin Kematian (in memoriam, Ibu Yoyoh Yusroh)

CERMIN KEMATIAN
by Agoes ‘GusPur’ Poernomo
(Aleg PKS DPR RI)

Hampir sama
Antara kehidupan yang baik
Dengan kematian yang baik
Keduanya sama-sama baik

Hampir sama
Antara kehidupan yang buruk
Dengan kematian yang buruk
Keduanya sama-sama buruk

Cara mati kita
Hanya cermin
Cara hidup kita

(Senyum bahagia Da’iyah Syahidah alm. Yoyoh Yusroh)

Sumber: pkspiyungan.blogspot.com

Akhlaq – Shalawat Atas Nabi SAW

Oleh : KH. Rahmat Abdullah

Apa yang Tuan pikirkan tentang seorang laki-laki berperangai amat mulia, yang lahir dan dibesarkan di celah-celah kematian demi kematian orang-orang yang amat mengasihinya? Lahir dari rahim sejarah, ketika tak ada seorangpun mampu mengguratkan kepribadian selain kepribadiannya sendiri. Ia produk ta’dib Rabbani (didikan Tuhan) yang menantang mentari dalam panasnya dan menggetarkan jutaan bibir dengan sebutan namanya, saat muaddzin mengumandangkan adzan.

Di rumahnya tak dijumpai perabot mahal. Ia makan di lantai seperti budak, padahal raja-raja dunia iri terhadap kekokohan struktrur masyarakat dan kesetiaan pengikutnya. Tak seorang pembantunya pun mengeluh pernah dipukul atau dikejutkan oleh pukulannya terhadap benda-benda di rumah. Dalam kesibukannya ia masih bertandang ke rumah puteri dan menantu tercintanya, Fathimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

Fathimah merasakan kasih sayangnya tanpa membuatnya menjadi manja dan hilang kemandirian. Saat bani Makhzum memintanya membatalkan eksekusi atas jenayah seorang perempuan bangsawan, ia menegaskan: “Sesungguhnya yang membuat binasa orang-orang sebelum kamu ialah, apabila seorang bangsawan mencuri kamu biarkan dia dan apabila yang mencuri itu rakyat jelata mereka tegakkan hukum atasnya. Demi Allah, seandainya Fathimah anak Muhammad mencuri, maka Muhammad tetap akan memotong tangannya.”

Hari-harinya penuh kerja dan intaian bahaya. Tapi tak menghalanginya untuk — lebih dari satu dua kali — berlomba jalan dengan Humaira, sebutan kesayangan yang ia berikan untuk Aisyah binti Abu Bakar Ash- Shiddiq. Lambang kecintaan, paduan kecerdasan dan pesona diri dijalin dengan hormat dan kasih kepada Ash-Shiddiq, sesuai dengan namanya “si Benar”.

Suatu kewajaran yang menakjubkan ketika dalam sibuknya ia masih menyempatkan memerah susu domba atau menambal pakaian yang koyak. Setiap kali para shahabat atau keluarganya memanggil ia menjawab: “Labbaik”. Dialah yang terbaik dengan prestasi besar di luar rumah, namun tetap prima dalam status dan kualitasnya sebagai “orang rumah”.

Di bawah pimpinannya, laki-laki menemukan jati dirinya sebagai laki-laki dan pada saat yang sama perempuan mendapatkan kedudukan amat mulia. “Sebaik-baik kamu ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang yang terbaik diantara kamu terhadap keluargaku.” “Tak akan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan tak akan menghina perempuan kecuali seorang hina,” demikian pesannya.

Di sela 27 kali pertempuran yang digelutinya langsung (ghazwah) atau di panglimai shahabatnya (sariyah) sebanyak 35 kali, ia masih sempat mengajar Al-Qur’an, sunnah, hukum, peradilan, kepemimpinan, menerima delegasi asing, mendidik kerumahtanggaan bahkan hubungan yang paling khusus dalam keluarga tanpa kehilangan adab dan wibawa. Padahal, masa antara dua pertempuran itu tak lebih dari 1,7 bulan.

Setiap kisah yang dicatat dalam hari-harinya selalu bernilai sejarah. Suatu hari datanglah ke masjid seorang Arab gunung yang belum mengerti adab di masjid. Tibatiba ia kencing di lantai masjid yang berbahan pasir. Para shahabat sangat murka dan hampir saja memukulnya. Sabdanya kepada mereka: “Jangan. Biarkan ia menyelesaikan hajatnya.” Sang Badui terkagum. Ia mengangkat tangannya, “Ya Allah, kasihilah aku dan Muhammad. Jangan kasihi seorangpun bersama kami.” Dengan senyum ditegurnya Badui tadi agar jangan mempersempit rahmat Allah.

Ia kerap bercengkerama dengan para shahabatnya, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita mereka di pangkuannya. Ia terima undangan mereka; yang merdeka, budak laki- laki atau budak perempuan, serta kamu miskin. Ia jenguk rakyat yang sakit di ujung Madinah. Ia terima permohonan ma’af orang. Ia selalu lebih dulu memulai salam dan menjabat tangan siapa yang menjumpainya dan tak pernah menarik tangan itu sebelum shahabat tersebut yang menariknya. Tak pernah menjulurkan kaki di tengah shahabatnya hingga menyempitkan ruang bagi mereka. Ia muliakan siapa yang datang, kadang dengan membentangkan bajunya.
Bahkan ia berikan alas duduknya dan dengan sungguh-sungguh. Ia panggil mereka dengan nama yang paling mereka sukai. Ia beri mereka kuniyah (sebutan bapak atau ibu si Fulan). Tak pernah ia memotong pembicaraan orang, kecuali sudah berlebihan. Apabila seseorang mendekatinya saat ia sholat, ia cepat selesaikan sholatnya dan segera bertanya apa yang diinginkan orang itu.

Pada suatu hari dalam perkemahan tempur ia berkata: “Seandainya ada seorang shalih mau mengawalku malam ini.” Dengan kesadaran dan cinta, beberapa shahabat mengawal kemahnya. Di tengah malam terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Para shahabat bergegas ke arah sumber suara. Ternyata Ia telah ada di sana mendahului mereka, tagak di atas kuda tanpa pelana. “Tenang, hanya angin gurun,” hiburnya. Nyatalah bahwa keinginan ada pengawal itu bukan karena ketakutan atau pemanjaan diri, tetapi pendidikan disiplin dan loyalitas.

Ummul Mukminin Aisyah Ra. Berkata : “Rasulullah SAW wafat tanpa meninggalkan makanan apapun yang dimakan makhluk hidup, selain setengah ikat gandum di penyimpananku. Saat ruhnya dijemput, baju besinya masih digadaikan kepada seorang Yahudi untuk harga 30 gantang gandum.”

Sungguh ia berangkat haji dengan kendaraan yang sangat seerhana dan pakaian tak lebih dari 4 dirham, seraya berkata,”Ya Allah, jadikanlah ini haji yang tak mengandung riya dan sum’ah.” Pada kemenangan besar saat Makkah ditaklukkan, dengan sejumlah besar pasukan muslimin, ia menundukkan kepala, nyaris menyentuh punggung untanya sambil selalu mengulang-ulang tasbih, tahmid dan istighfar. Ia tidak mabuk kemenangan.

Betapapun sulitnya mencari batas bentangan samudera kemuliaan ini, namun beberapa kalimat ini membuat kita pantas menyesal tidak mencintainya atau tak menggerakkan bibir mengucapkan shalawat atasnya: “Semua nabi mendapatkan hak untuk mengangkat do’a yang takkan ditolak dan aku menyimpannya untuk ummatku kelak di padang Mahsyar nanti.”

Ketika masyarakat Thaif menolak dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghimpit mereka dengan bukit. Ia menolak, “Kalau tidak mereka, aku berharap keturunan dari sulbi mereka kelak akan menerima da’wah ini, mengabdi kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.” Mungkin dua kata kunci ini menjadi gambaran kebesaran juwanya. Pertama, Allah, Sumber kekuatan yang Maha dahsyat, kepada-Nya ia begitu refleks menumpahkan semua keluhannya. Ini membuatnya amat tabah menerima segala resiko perjuangan; kerabat yang menjauh, shahabat yang membenci, dan khalayak yang mengusirnya dari negeri tercinta. Kedua, Ummati, hamparan akal, nafsu dan perilaku yang
menantang untuk dibongkar, dipasang, diperbaiki, ditingkatkan dan diukirnya.

Ya, Ummati, tak cukupkah semua keutamaan ini menggetarkan hatimu dengan cinta, menggerakkan tubuhmu dengan sunnah dan uswah serta mulutmu dengan ucapan shalawat? Allah tidak mencukupkan pernyataan- Nya bahwa Ia dan para malaikat bershalawat atasnya (QS 33:56 ), justru Ia nyatakan dengan begitu “vulgar” perintah tersebut, “Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atasnya dan bersalamlah dengan sebenar-benar salam.”

Allahumma shalli ‘alaihi wa’ala aalih !

Allahuyarham Ust. Rahmat Abdullah dan Palestina

Ustadz Rahmat Abdullah adalah seorang guru yang perlu ditiru, pembina yang bijaksana, murabbi yang rendah hati, lahir di kampung Betawi daerah Kuningan, Jakarta Selatan, 3 Juli 1953. Putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan Abdullah dan Siti Rahmah.

Beliau pernah menuntut ilmu di pesantren “Perguruan Islam Asy Syafi’iyah”, Bali Matraman, Jakarta Selatan, sekaligus berguru kepada pendiri pesantrenPerguruan Islam tersebut, seorang ulama yang tegas dan kharismatik, KH. Abdullah Syafi’i.

Kecintaannya kepada ilmu, dunia pendidikan dan pembinaan (tarbiyah) meyebabkan beliau mengajar di almamaternya dan Darul Muqorrobin, Karet, Kuningan, Jakarta Selatan, serta membina pemuda-pemuda yang berada di sekitar rumahnya.

Guru beliau lainnya adalah Ustadz Bakir Said Abduh, lulusan perguruan tinggi Mesir, pengelola Rumah Pendidikan Islam (RPI), Kuningan Jakarta Selatan. Melalui ustadz Bakir Said Abduh, Ustadz Rahmat banyak membaca buku-buku karya ulama Al-Ikhwan Al-Muslimin, salah satunya adalah buku Da’watuna (Hasan Al-Banna) yang kemudian ia terjemahankan menjadi Dakwah Kami Kemarin dan Hari Ini (Pustaka Amanah).

Sebagai seorang Ustadz dan seorang Murabbi, beliau tidak berpikiran sempit, memiliki wawasan yang luas, memiliki perhatian dan kepedulian terhadap permasalahan dunia Islam, seperti Afghanistan, Bosnia, khususnya Palestina yang masih dijajah Zionis Israel.

Ketika masyarakat Jakarta mengikuti aksi damai “SELAMATKAN AL AQSHA”, Ahad, 17/4/2005, yang diadakan DPP PKS dan diikuti 250.000 massa.

Ustadz Rahmat Abdullah walaupun dalam keadaan sakit, beliau turut serta dan tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian membela rakyat Palestina dan Masjid Al-Aqsha yang akan dihancurkan oleh tangan kotor Zionis Israel.

Bahkan beliau ikut long march dari bundaran HI ke Kedutaan Besar AS di Jl. Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, dan melakukan orasi membangkitkan semangat kader dakwah dalam perjuangan dan membela saudaranya di Palestina yang sedang dizalimi penjajah Israel.

Di antara isi pidatonya adalah:

*”Yang mati ditikam sudah banyak, yang mati kena narkoba melimpah, yang mati kebut-kebutan kecelakaan lalulintas sudah banyak. Indonesia bertanya, siapa yang mati dengan seni kematian yang paling indah? Seni kematian yang paling baik membela ajaran Allah, membela mereka yang tertindas dan teraniaya. Mungkin banyak yang ngeri dengan istilah tadi. Sekedar berjalan kaki dari HI kemari (ke depan kedubes AS) belum berarti apa-apa. Tetapi ini akan jadi sangat berarti bagi saudara-saudara kita di Palestina. Tahukah saudara-saudara sekalian?! Di tengah derita mereka, hidup bertahun-tahun ditenda dan rumah-rumah darurat, ternyata saudara-sadara kita di Palestina masih sempat mengirimkan sumbangan untuk saudara-saudara kita di Aceh (korban gempa dan Tsunami) kemarin. Karena yang bisa memahami derita adalah orang yang sama–sama menderita, oleh karena itu walaupun kita tidak dalam derita seharusnya punya kepekaan, punya kepedulian dan punya hati yang halus dan lembut untuk bisa mendengar rintihan suara anak–anak di Palestina“.*

Kehadiran Ustadz Rahmat dalam Aksi Solidaritas untuk Palestina dengan tema “SELAMATKAN AL AQSHA”, Ahad, 17/4/2005 dan orasinya di depan kedubes AS, merupakan kehadiran beliau untuk yang terakhir kalinya dalam mengikuti Aksi Pembelaan untuk Palestina, karena dua bulan setelah Aksi Solidaritas tersebut tepatnya pada hari Selasa, 14 Juni 2005, beliau wafat pada usia 52
tahun, dengan meninggalkan seorang isteri dan tujuh orang anak. Jasad beliau dikuburkan di samping komplek Islamic Center IQRO’, Jati Makmur, Pondok Gede, Bekasi.

“*Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)“.* (QS. Al-Ahzab/33:23)

Doa Ustadz Rahmat*: **”Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu …Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman…Kepada nenek moyang kami penyembah berhala…Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah…Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran…Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami…Jangan jadikan kami pengkhianat yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini…Dengan sikap malas dan enggan berda’wah…Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa“.*

H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA

Asy-syahid ‘Syeikh Izzuddin al-Qassam’

Pada tanggal 20 November 1935, haru Rabu, di Ahrasy Ya’bad, Jenin, Palestina terjadi sebuah perang yang tidak seimbang antara ratusan tentara Inggris dengan persenjataan lengkap dan bantuan helikopter pengintai melawan sepuluh pasukan mujahidin dengan persenjataan seadanya.

Pada peristiwa itu, pasukan mujahidin dipimpin oleh Syaikh Izzudin Al Qassam yang sehari-harinya bertugas sebagai Imam Masjid Istiqlal, Ketua Jam’iyah Syubbanul Muslimin dan pencatat nikah KUA.

Syaikh Izzudin Al Qassam memerintahkan kepada pasukannya untuk memilih mati syahid daripada mundur ketika terjado pengepungan. Satu per satu mujahidin berguguran. Termasuk Syaikh Izzudin Al Qassam sendiri. Tiga sahabatnya juga syahid: Yusuf Abdullah, Hanafi Atuyyah, dan mUhammad Abdul Qassim.

Tahun 1911 beliau memobilisasi senjata dan sukarelawanuntuk turun ke medan jihad di Libya. Ketika Perancis menganeksasi Syiria, ia menjual rumahnya dan membeli 34 pucuk senjata sebagai alat perlawanan dan melawan pasukan oenjajah. Perjuangannya ini dikhianatini oleh revolusi pimpinan Ibrahim Hanano yang menyerahkan Syiria pada penjajah. Ketika ia ditangkap dan dijatuhi vonis mati, ia melarikan diri ke Haifa di Palestina.

Dalam menyukseskan jihadnya, ia mengambil dan melakukan rekrutmen milisi dengan ketat. Hanya yang beriman dan siap matilah yang akan menjadi pasukannya. Ia berhasil merekrut 800 pengikut dan simpatisan.

Operasi p[ertama yang dilakukannya adalah melakukan penyerangan ke pemukiman Yahudi Nahlal di kawasan Marj Amir. Hasilnya kepala penjara Haifa terbunuh dan dua anaknya terluka. Reward senilai 500 poundsterling diberikan pad siapa yang bisa memberikan informasi pelakunya. Syaikh Izzudin mengalami masa-masa pengejaran oleh Inggris.

Anak prempuannya yang bernama Maimunah sempat memintanya untuk menghentikan perlawanan senjata dan diganti dengan cara damai saja. Tentu saja Syaikh marah dan berkata, “Diamlah wahai Maimunah, tidaklah kemuliaan teraih dan tercabut dari segala penderitaan kecuali melalui tetesan darah!”

Di kawasan Nashirah, ia dan pasukannya berhasil membunuh 11 orang Yahudi. Berbagai operasi digelar Inggris untuk menghentikan jihadnya. Di kawasan Ja’bad, beliau syahid dalam sebuah pengepungan. Di saku bajunya, terselip mushaf Al Qur’an yang menjadi identitas dirinya dan sumber kekuatannya.

Perjuangan.

Izzudin al Qossam atau yang mempunyai nama lengkap Abdul Qadir Mustafa
Al Qassam. Lahir pada tahun 1871, di Provinsi Al Ladziqiyyah, Syiria
bagian Selatan. Ia berasal dari keluarga miskin, namu berakhlak mulia.
Belajar pertama kali di Al Azhar dari Muhammad Abduh dan bersahabat
kental dengan Muhammad Rasyid Ridho.

Ilmu yang diperolehnya disebarkan dengan penuh keikhlasan tanpa kenal
lelah. Ia tidak hanya berceramah, tetapi juga benyak berbuat. Tahun
1911, beliau memobilisasi senjata dan sukarelawan untuk turun berjihad
di Libya. Beliau mampu menggelorakan perlawanan agar tidak termasuk
barisan orang-rang munafik.

Ketika Prancis menganeksasi Syiria, ia menjual rumahnya lalu dibelikan
34 pucuk senjata sebagai alat perlawanan dirinya dan pasukannya melawan
penjajah. Sayang, perjuangan suci Al Qassam dikhianati oleh revolusi
pimpinan Ibrahim Hanano yang menyerahkan Syiria kepada penjajah dan
menangkapi para pejuang. Ketika Al Qassam mendapat vonis hukuman mati,
melarikan diri ke Haifa, Palestina.

Di Haifa, api jihadnya semain berkobar lantaran melihat kekejaman
Inggris yang merangsek masuk dan menjajah. Khutbah-khutbahnya mampu
membangkitkan semangat jihad para mujahidin untuk melawan musuh-musus
Islam, ketika banyak ulama hanya sibuk mengajak fiqh thaharah atau sibuk
dengan tarian sufi. Pihak penjajah semakin mencium pengaruh kuat Al
Qassam yang bergitu kuat dan mengakar. Untuk itu, Al Qassam menjadi
sasaran target pengantian intelejen yang mulai disebar.

Agar sukses dalam misi jihadnya dan melakukan rekrutmen milisi yang
ketat. Hanya orang yang beriman dan siap matilah yang akan dijadikan
pasukannya (subhanallah). Beliau berhasil mengumpulkan dan memiliki
lebih dari 800 pengikut dan simpatisannya jihadnya. Atas dasar inilah,
Al Qassam tidak mau bergabung dalam muktamar di Masjidil Al Aqsha tahun
1928 dan 1931. Ia lebih fokus bergerak di bawah tanah (underground)
untuk mengusir Inggris.

Operasi pertamnya adalah menyerang permukiman Yahudi Nahlal di kawasan
Marj Amir. Hasilnya, kepala penjara Haifa terbunuh, dan dua anaknya
terluka. Tentara Inggris mengumumkan akan memberi hadiah 500
poundsterling bagi siapa yang bisa memberikan informasi pelukanya. Al
Qassam harus pintar bersembunyi dari kejaran pasukan Inggris. Anak
perempuannya yang bernama Maimunah sempar memintanya untuk menghentikan
perlawanannya bersentaja dan diganti dengan cara damai saja. Al Qassam
pun marah dan berkata, "Diamlah hawai Maimunah, tidaklah kemuliaan
teraih dan tercabut dari segala penderitaan kecuali melalui tetesan
darah."

Di kawasan Nashirah, Al Qassam dan pasukannya berhasil membunuh 11 orang
Yahudi. Kemarahan Inggris terhadap Al Quran semakin meningkat dan
berbagai operasi pun digelar untuk menghentikan jihadnya. Hingga pada
Rabu di pagi hari tanggal 20 November 1935 tepatnya di Kota Ashrasy
Ya'bad, kota Jenin, Palestina terjadi lah pertempuran atau
peperangan yang tidak seimbang antara ratusan pasukan Inggris yang
bersenjatakan lengkap dan bantuan helikopter pengintai dengan sepuluh
mujahidin dengan persenjataan seadanya.

Pada legendaris itu, pasukan mujadihidin yang dipimpin oleh Syaikh
Izzudin Al Qassam yang sehari-harinya bertugas sebagai imam Masjid
Istiqlal, ketua Jamaah Syuban Al Muslimin, dan pencatat nikah KUA. Dalam
peperangan yang tidak seimbang itu, syaikh Izzudin Al Qassqm
memerintahkan pasukannya untuk memilih mati syahid dari pada mundur,
saat para mujahidin telah dikepung rapat oleh pasukan Inggris. Dan
akhirnya syaikh Izzudin Al Qassam bersama sembilan pasukannya meraih
kematian yang di muliakan dan menjadi cita-cita seorang mujahid yaitu
SYAHID yang menyertainya ruh sucinya menemui Rabb Nya. Di saku bajunya
terselip mushaf Al Quran yang menjadi identitas dan sumber kekuatan
seorang muslim.

Hingga sampai saat ini nama Izzudin Al Qassam melegenda sebagai mujahid
sejati dan dijadikan nama Brigade (sayap) militer milisi perjuangan
rakyat Palestina dari HAMAS yaitu Brigade Izzudin Al Qassam.

—o]![o–

Syaikh Sorang Salafy

Belakangan sebagian orang mempermasalahkan afiliasi Syaikh Izzudin Al Qassam. Permasalahan muncul karena Hamas mengabadikan namanya sebagai nama sayap militernya: Brigade Izzudin Al Qassam. Hamas secara terbuka menyatakan diri sebagai sayap Ikhwanul Muslimin di Palestina sebagaimana yang tercantum dalam piagam pendiriannya. Seorang syaikh Salafi menyatakan bahwa Syaikh Izzudin Al Qassam bermanhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah sehingga dianggap ‘tidak etis’ jika namanya digunakan oleh kelompok yang berbentuk hizb seperti Hamas. Tentu saja pernyataan ini benar karena semua muslim anggota Ikhwanul Muslimin beraqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan bermanhaj Salaf.

Ana memang tidak menemukan data tentang keterlibatan Syaikh Izzudin Al Qassam dengan Ikhwan secara riil karena Ikhwan memang secara resmi berdiri pada tahun 1928. Sedangkan perjuangan Syaikh Izzudin Al Qassam tentu dimuali sekitar tahun 1924, setelah Khlafah dipecah-pecah. Tapi pemikiran yang senada dengan Ikhwan memang sudah ada sebelumnya. Pemikiran ini dibawa oleh Syaikh Muhammad Abduh, Syaikh Jamaluddin Al Afghani, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dan lainnya.

Selain itu, setahu ana, Jam’iyah Syubbanul Muslimin adalah salah satu cabang organisasi Ikhwan. Bagi yang tahu sejarah Hasan Al Banna pasti sangat tahu nama Jam’iyah Syubbanul Muslimin. Markaznya di Kairo merupakan tempat terakhir yang dikunjungi Hasan Al Banna sebelum konspirasi insiden pembunuhannya.

Selain data tersebut, ana belum memiliki data yang lain. Oleh karena itu, kalau ada data yang lebih valid dan berkualitas, ana akan mengikuti yang lebih benar.

Sebenarnya tidak penting mempermasalahkan afiliasi Syaikh Izzudin Al Qassam. Yang penting saat ini adalah bagaimana menyelesaikan konflik Palestina dan kepada siapa kita harus membantu. Apakah kepada rakyat Palestina melalui berbagai kelompoknya seperti Fatah, Hamas dan Jihad Islam, atau kepada Israel, atau kepada Mesir, atau kepada Libanon, atau kepada Hizbullah yang Syi’ah, atau kepada Arab Saudi, atau kepada Amerika, atau malah kepada Israel?

Yang jelas saat ini yang secara langsung mempertahankan tanah Palestina adalah rakyat Palestina sendiri, di Jalur Gaza dengan Hamas. Arab Saudi yang merupakan Negara petrodollar dan sebagian besar ulamanya adalah Salafi telah berencana menyumbang dana snilai 1 milyar dollar untuk rekonstruksi Gaza. Indonesia melalui pemerintahnya telah menyumbang senilai 1 juta dollar. Tak terkecuali banyak juga institusi sipil yang menyalurkan bentuan ke Palestina seperti KISPA, KNRP, PKS, MER-C dan sebagainya.

Janganlah kita menghujat satu pihak lain yang membantu saudaranya yang terzhalimi, sementara kita tidak berbuat apa-apa!

Itulah sepenggal kisah syahid Syaikh Izzudin Al Qassam yang ana nukilkan dari Buku Mozaik Syuhada Ikhwanul Muslimin karangan Prof. DR. Yusuf Al Wai’y terbitan Fitrah Rabbani.

Asy-Syahid Syaikh Ahmad Yasin :”Menggerakan Dunia dari Kursi Roda”

Dia adalah seorang mukmin yang merdeka meski seluruh hidupnya dibelenggu dengan terali besi. Itulah gambaran indah yang mencerminkan kehidupan Syaikhul Mujahidin, Guru para Mujahid dan perlawanan ini. Meskipun sebenarnya gambaran tersebut kalah indah dengan kalbunya yang menghembuskan kehidupan serta tekadnya yang tidak pernah lumpuh dan tidak terbelenggu oleh ikatan penjara. Beliau adalah cakrawala yang luas serta pikiran yang hidup yang tidak mengenal batas.

Demikianlah kehidupannya di penjara dan begitulah kisahnya saat berada di medan dakwah dan perlawanan, seperti yang dituturkan oleh orang-orang yang mendampinginya, mengenai sosok yang tidak mampu bergerak, namun bisa menggerakkan dunia. Tidak salah bila kemudian Dr. Kamal al Mishri, seorang penulis asal Mesir di laman islamonline menulis tentang sosok manusia istemewa ini dalam sebuah artikelnya dengan judul Al Syaikh Yaseen .. Al Aqid Alladzi Aqama al Alam (Syaikh Yasin .. Orang Lumpuh yang Membangunkan Dunia). Kata Kamal al Mishri, ketika Anda melihat (realita fisiknya) kemudian Anda mendengar capaian-capaian yang dihasilkan, Anda akan memahami betul firman Allah swt di dalam hadist qudsi, Maka jika Aku mencintainya, Aku adalah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku adalah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku adalah tangannnya yang dia gunakan untuk memukul, dan Aku adalah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. (HR. Bukhari).

Kalbu yang senantiasa menghembuskan nafas kehidupan bagi umat dan bangsanya serta tekad yang tak pernah kenal lumpuh dan belenggu ini telah menjadikan kata-katanya penuh hikmah bagi siapa saja yang mendengarnya, sekaligus menjadi rudal yang menggetarkan bagi musuh-musuhnya.

Dia bukanlah seorang presiden ataupun seorang raja. Dia hanyalah seorang lelaki lumpuh yang membangun ide perlawanan hingga menjadi sosok yang tidak disebut kecuali dengannya. Sampai hari ini, setiap orang baik lawan maupun kawan tetap menaruh hormat kepadanya. Namanya senantiasa disebut di seluruh dunia. Dialah Amir Mujahidin Palestina, mujahid Ahmad Yasin, gugur perlawanan yang gugur oleh tangan-tangan biadab Zionis Israel dalam serangan rudal dari pesawat heli tempur Apache buatan Amerika, selepas shalat subuh di masjid kota Gaza, Senin 22 maret 2004 lalu.

Wahai anak-anakku, telah tiba saatnya kalian kembali kepada Allah swt., meninggalkan berbagai sorak kehidupan dan menyingkirkannya ke tepi jalan. Telah tiba saatnya kalian bangun dan melakukan salat subuh berjamaah, saatnya kalian menghiasi diri dengan akhlak mulia, mengamalkan kandungan al Qur’an, serta meneladani Muhammad saw.

Aku mengajak kalian wahai anak-anakku untuk shalat tepat waktu. Lebih dari itu, aku mengajak kalian, wahai anak-anakku, untuk mendekat kepada Nabi kalian yang agung.

Wahai para pemuda, aku ingin kalian mengenal dan menyadari makna tanggung jawab, tegar menghadapi kesulitan hidup, meninggalkan keluh kesah, menghadap kepada Allah swt., banyak meminta ampunan kepada-Nya agar Dia memberi rezeki kepada kalian, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Aku ingin kalian tidak terlena oleh saluran-saluran lagu audio visual, melupakan kata-kata yag mengobral cinta, serta menggantinya dengan kata amal, kerja, dan zikir kepada Allah. Wahai anak-anakku, kuharap kalian tidak sibuk dengan musik dan terjerumus ke dalam arus syahwat.

Wahai putriku, aku ingin kalian berjanji kepada Allah mempergunakan hijab secara benar. Aku meminta kalian berjanji kepada Allah peduli dengan agama dan Nabi kalian yang mulia. Jadikanlah ibunda kalian, Khadijah dan Aisyah, sebagai teladan. Jadikan mereka sebagai pelita hidup kalian. Haram hukumnya bagi kalian membuat usaha para pemuda untuk menjaga mata mereka menjadi kendur dan surut.

Kepada semuanya, aku ingin kalian bersiap-siap menghadapi segala sesuatu yang akan datang. Bersiaplah dengan agama dan ilmu pengetahuan. Bersiaplah untuk belajar dan mencari hikmah. Belajarlah bagaimana hidup dalam kegelapan yang pekat. Latihlah diri kalian agar dalam beberapa saat hidup tanpa listrik dan perangkat elektronik. Latihlah diri kalian agar dalam sementara waktu merasakan kehidupan yang keras. Biasakan diri kalian agar dapat melindungi diri dan membuat perencanaan untuk masa depan. Berpeganglah kepada agama kalian. Carilah sebab-sebabnya dan tawakallah kepada Allah.

Itulah sepenggal pesan yang disampaikan pendiri dan tokoh spiritual Gerakan Perlawanan Islam Hamas ini, kepada anak-anak muda Palestina. Melalui kata-kata yang jelas dan tulus bersumber dari kalbu tanpa dibuat-buat, dengan spontanitas yang jujur serta kejelasan yang menerangkan jalan dan memimpin perjalanan, melalui berbagai makna kasih sayang yang dapat mengarahkan para pemuda dan menuntun mereka, beliau berbicara seraya membaca kondisi jiwa mereka. Beliau berbicara kepada mereka lewat realitas kondisi yang ada sehingga mampu membangun sebuah perjuangan yang membutuhkan keimanan dan kesiapan semaksimal mungkin. Lalu sisanya diserahkan kepada Allah swt.

Syaikh Ahmad Yasin adalah sosok manusia intimewa dan unik pada zamannya, tokoh besar dan bintang bagi orang-orang sejenisnya, menjadi cahaya bagi rekan-rekannya, sosok menakjubkan bagi mereka yang hidup di masanya, perhiasan bagi tokoh setarafnya, pahlawan di era kekalahan, pemberani di tengah iklim ketakutan, pemimpin di samudera kelemahan, raksasa di tengah kehinaan, kemuliaan di medan kerendahan. Sosok yang menjadi harapan di tengah segala kebuntuan, sosok ketegaran dalam menghadapi kekalahan dan keruntuhan. Dia adalah pribadi yang memiliki hikmah di tengah kerancuan, ketergelinciran akal, kebutaan mata hati dan keimanan di tengah-tengah suasana keterkoyakan dan hilangnya identitas. Dia adalah sosok yang meneguhkan keyakinan pada pertolongan Allah dan janji-Nya terhadap kaum mukmin di tengah kegelapan, kesesatan, kebencian para musuh, dan kecemasan jiwa.

Seperti diungkapkan Prof. Dr. Taufiq Yusuf , dalam karyanya al-Qaadat al-Jihaad al-Filistiini fii al-Ashr al-Hadiits: Kifaah, Tadhiyyah, Butuulaat, Syahaadaat, semua gambaran di atas terdapat pada sosok lumpuh yang tak mampu berdiri ini; sosok yang kedua tangannya pun lumpuh tidak mampu membawa sesuatu; sosok yang kurus dan lemah; tubuh yang terserang oleh berbagai penyakit; penglihatan yang telah kabur kecuali hanya seberkas sinar dari satu mata; serta penderitaan dan sakit yang tak kunjung reda. Bukankah ini sesuatu yang menakjubkan? Bukankah ia merupakan tanda kebesaran Tuhan dan wujud anugerah-Nya? Sosok tersebut hidup untuk misi dan untuk umatnya. Ia menghabiskan usianya dalam dakwah. Ia adalah jihad yang terus berjalan, teladan yang terus bergerak, panutan yang memancarkan cahaya dan keimanan, serta pemahaman dan pengetahuan di tengah jarangnya orang yang tulus, di tengah sedikitnya keikhlasan, serta di tengah lenyapnya suara kebenaran dan ketegasan. Syaikh Yasin datang sebagai pemimpin bagi para mujahed, tokoh bagi para dai, guru yang bijak dan teladan yang agung bagi para pendidik. Tubuhnya yang kurus, kelumpuhannya, dan penyakit yang kronis membuatnya tidak mampu berjuang dengan senjata. Karena itu, beliau berjuang dengan senjata hikmah, dengan pedang pembinaan dan penataan, dengan meriam keimanan, serta dengan bom kesabaran, keteguhan, dan ketegaran. (Dari berbagai sumber)